Pembangkit Listrik tak Beri Kontribusi Kondisi Udara Jakarta

JAKARTA, KRJOGJA.com – Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Wanhar menegaskan bahwa pembangkit listrik yang ada di Jakarta dan sekitarnya terbukti tidak memberikan kontribusi besar bagi lingkungan, khususnya kondisi udara Jakarta karena sebagian besar pembangkit listrik yang digunakan adalah gas alam yang kandungan pencemarnya rendah.

"Sedangkan yang menggunakan bahan bakar batubara sudah dilengkapi dengan continuous emission monitoring system (CEMS) sehingga emisi yang dikeluarkan dapat secara terus menerus dipantau," tutur Wanhar dalam pernyataannya di Jakarta, Senin (5/8/2019).

Pendapat ini juga sesuai dengan hasil simulasi Pusat Penelitian Pengembangan PLN (PLN Research Institute) yang dituangkan dalam bentuk laporan mengenai pencemaran udara di Jakarta. Simulasi ini dihitung berdasarkan pembangkit listrik di PLTGU Muara Karang Blok, PLTGU Tanjung Priok, PLTGU Muara Tawar, PLTU Lontar, dan PLTU Suralaya Unit 8 PLN.

Wanhar juga mengungkapkan, mengacu kepada RUPTL PT. PLN (Persero) Tahun 2019 – 2028 bahwasannya kebijakan pengembangan ketenagalistrikan di Indonesia sangat memperhatikan kebijakan penurunan emisi dan gas rumah kaca (GRK) nasional. Kebijakan PLN untuk mendukung target penurunan emisi itu meliputi pengembangan energi baru dan terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga air, minihidro, biomassa, gas buang industri, surya, dan lainnya.

Berikutnya PLN menggunakan teknologi rendah karbon seperti penggunaan campuran bahan bakar biofuel untuk pembangkit listrik tenaga diesel. Kemudian juga pemanfaatan penyimpan energi seperti baterai, pompa storage, dan powerbank. Selain itu mempromosikan penggunaan peralatan listrik yang efisien ditambah penghijauan dengan target 1.000 pohon untuk setiap unit induk PLN.

"Dan khusus untuk PLTU batubara, PLN juga menerapkan teknologi rendah karbon dengan tingkat efisiensi tinggi," tutur Wanhar. Dengan diterapkannya teknologi semacam itu, maka konsumsi bahan bakar fosil akan berkurang, serta memberi dampak berkurangnya efek gas rumah kaca, emisi gas buang, dan pencemaran lingkungan hidup. (Ful)

BERITA REKOMENDASI