Pembangunan Perpustakaan Ikhtiar Peradaban Bangsa

“Master plan pembangunan gedung literasi Kabupaten Magetan yang akan menjadi salah satu kawasan wisata dengan Taman Refugia dan Smart Farm di Kabupaten Magetan,” katanya.

Komitmen pemerintah untuk menjadikan Magetan sebagai Kabupaten Literasi diwujudkan dengan Rencana Pembangunan Gedung Literasi di Tahun 2021 dengan Dana Alokasi Khusus Sub Bidang Perpustakaan untuk Zona 1 dan didukung pula dengan APBD Kabupaten Magetan untuk Zona 2, yang diharapkan lebih mendekatkan Perpustakaan ke seluruh lapisan masyarakat. Kawasan Literasi ini nanti akan menjadi salah satu Kawasan wisata dengan Taman Refugia dan Smart Farm.

“Pemerintah Kabupaten Magetan juga akan membuat Kawasan Wisata Edukasi dari Perpustakaan Umum, Pendapa Surya Graha, Rumah Dinas Bupati hinga Sekretariat Kabupaten Magetan. Ini koleksi dari Perpustakaan pribadi saya di rumah dinas Bupati dengan 5.000 judul koleksi dari berbagai subjek pengetahuan,” lanjutnya.

Ia menjelaskan bahwa Perpustakaan Umum Magetan dulunya sangat sederhana. Di lantai bawah, adalah Kantor Kesbangpol. Kini, bukan perpustakaannya yang dipindahkan, tapi Kantor Kesbangpol yang dipindahkannya. Itu karena letaknya sangat strategis, dan bisa diakses masyarakat dari banyak penjuru, perpustakaan harus ada di sana.

“Kita tahu bahwa kepala daerah menempatkan perpustakaan di pos paling belakang. Di Magetan, saya tidak mau seperti itu. Magetan harus menjadi kabupaten literasi. Kebijakan kita adalah mengembangkan pengelolaan perpustakaan. Perpustakaan itu harus kita tempatkan di tempat yang semestinya. Perpustakaan harus ditempatkan di tempatkan di tempat yang cukup mudah dijangkau,” ungkapnya.

Suprawoto juga menyampaikan bahwa kabupaten yang dipimpinnya mempunyai konsep kebun literasi. Di lokasi ini, anak-anak tak hanya menikmati wisata alam, tapi mereka bisa sambil menulis, menyalin, yang bisa membawa nilai tambah.

“Bukan hanya wisata alam, tapi juga wisata literasi. Didalam membuat kebijakan, kita undang stakeholder perpustakaan. Ini bukti nyata. Saat membeli buku saja, kita perlu tanyakan yang dibutuhkan masyarakat itu buku apa. Sehingga yang kita adakan adalah buku yang benar-benar dicari masyarakat,” sambungnya.

Mereka juga mengelar Malam Purnama Sastra, di depan Perpustakaan Daerah. Di sini, anak-anak bisa membaca puisi di taman perpustakaan pada malam minggu, saat tempat ini sedang ramai.

“Kita mempunya mall pelayanan publik satu-satunya di Indonesia. Ada juga pojok baca digital. Mari bangun mimpi anak-anak kita dengan mendorong mereka untuk banyak membaca buku. Orang boleh pintar setinggi langit, boleh kaya setinggi langit, tapi kalau tidak menulis dia akan hilang dari sejarah. Menulis adalah pekerjaan yang abadi,” katanya. (Lmg)

 

BERITA REKOMENDASI