Pemda Bali Revisi Perda Pemandu Wisata

DENPASAR (KRjogja.com) – Pemerintah daerah (pemda Bali) merevisi peraturan daerah (perda) pariwisata  tentang persyaratan menjadi pemandu wisata yang dulunya harus berpendidikan minimal D-3 (diploma 3) menjadi lulusan minimal Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kondisi ini akibat membanjirnya orang Tiongkok di Bali dan menjadi pemandu wisata.

"Banjirnya warga Tiongkok yang ingin menjadi pemandu wisata di Bali sangat tinggi, itu membuat pemandu wisata kita jadi terhambat. Makanya kita akan merevisi perda pariwisata tentang persyaratan seorang pemandu wisata yang dulunya minimal D-3 menjadi minimal SMK," kata Kepala Dinas Pariwisata Bali, Agung Yuniartha pada acara Pelatihan Pariwisata kepada jurnalis di Jimbaran, Bali (Rabu-Jumat 3-5 Agustus).

Menurutnya, banyaknya peminatan warga Tiongkok menjadi pemandu wisata di Bali, karena selama ini wisatawan dari  Tiongkok yang ke Bali paling tinggi yakni mencapai 2 juta orang per tahun. Sementara target wisman ke Bali tahun 2016 sekitar 4,4 juta orang. Namun, untuk menjadi pemandu wisata itu harus mempelajari sejarah dan budaya Bali serta harus lulus dan memiliki sertifikasi yang dikeluarkan oleh lembaga yang telah ditunjuk.

"Pemandu wisata harus mempelajari sejarah dan budaya Bali, agar tidak salah dalam menjelaskan budaya dan sejarah Bali. ini susah, orang Bali saja belum tentu bisa mempelajari dan bisa menyampaikannya dengan baik. Dan mereka juga harus memiliki sertifikasi.  Kalau tidak lolos mereka tidak bisa menjadi pemandu wisata," tegasnya.

Dikatakan, saat ini pemandu wisata yang ada di Bali mencapai 8000 orang, dimana 90 persen merupakan orang Bali. Sedangkan kebutuhan untuk pemandu wisata yang bisa berbahasa mandarin hanya sekitar 4.000 orang.
"Memang kebutuhan pemandu wisata yang bisa berbahasa  mandarin mencapai 4.000 orang," ujarnya.  (Lmg)

 

BERITA REKOMENDASI