Pemerintah Harus Impor 280.000 Ton Jagung, Ini Alasannya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Kementerian Koordinator bidang Perekonomian buka-bukaan terkait impor jagung 30.000 ton. Sebab belakangan impor jagung ini mendapatkan banyak reaksi bahkan sampai dipolitisasi.

Deputi Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud mengatakan, alasan mengapa akhirnya pemerintah melakukan impor adalah karena kekurangan stok, sehingga berpotensi membuat harga jual jagung di tingkat konsumen melonjak.

Menurut Musdalifah, kekurangan stok tersebut disebabkan telatnya antisipasi kelangkaan jagung pada tingkat peternak. Khususnya kelangkaan jagung yang terjadi pada semester II-2018 lalu yang berujung pada kebijakan impor jagung kering untuk bahan baku pakan ternak dalam tiga tahap sebanyak total 280.000 ton.

"Kemarin kita agak kurang dalam mengukur kebutuhan jagung industri peternakan kecil dan menengah. Seharusnya saat paceklik kita sudah mampu mengukur bahwa produksi kita hanya sekian dan kita butuh dalam tiga bulan ke depan dari mana saja," ujarnya saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (13/2/2019).

Oleh karenanya lanjut Musdhalifah, pemerintah akan memperbaiki hal tersebut agar pada tahun ini kejadian tersebut tidak terulang kembali. Salah satu yang akan dilakukan adalah dengan memeprbaiki data dan sistem informasi tanaman jagung.

"Sebetulnya di 2017 gejolaknya tidak terlalu banyak. Ini terjadi di 2018 karena mungkin akses data kita kurang sinkron antara produksi dan kebutuhan pada saat paceklik. Kita perlu mengukur produsen dan konsumen jagung ini dengan lebih detail," katanya.

Data dan informasi tersebut nantinya akan mencantumkan data produksi dan konsumsi secara lebih detail. Tak hanya itu, nantinya data tersebut juga akan menghadirkan informasi detail mengenai distribusinya. (*)

BERITA REKOMENDASI