Pendapatan Industri Asuransi Jiwa Tumbuh 13.591 Persen

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Pada triwulan I tahun 2021 pendapatan industri asuransi jiwa Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencapai Rp 62,66 triliun atau tumbuh 13.591,6 persen dibanding periode yang sama tahun 2020 yang mengalami Rp -0,46 triliun.

“Jika sebelumnya industri asuransi jiwa mencatat nilai minus hampir Rp 0,5 triliun di triwulan pertama tahun 2020, maka kali ini tanda rebound mulai terlihat di triwulan pertama tahun 2021 dimana industri asuransi jiwa mencatatkan pendapatan positif sebesar Rp 62,66 triliun,” kata Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu, dalam acara paparan kinerja AAJI triwulan I tahun 2021, secara virtual di Jakarta, Selasa (08/06/2021).

Adapun rincian pendapatan AAJI ini total pendapatan premi mencapai Rp. 57,45 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 28,5 persen. Hasil investasi mencapai Rp 2,44 triliun atau tumbuh 105,1 persen, klaim asuransi Rp 1,55 triliun atau tumbuh 3,6 persen dan pendapatan lainnya mencapai Rp 1,21 triliun atau meningkat 5,7 persen.

Dikatakan, pada kuartal pertama tahun 2021, total pendapatan premi dari bisnis baru tercatat Rp. 11 triliun lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Setara dengan pertumbuhan 42,3 persen. Sedangkan persentase premi lanjutan atau yang dilanjutkan oleh nasabah mengalami kenaikan sebesar 9,3 persen.

Total pendapatan premi dari bisnis baru senilai Rp. 37,04 triliun tersebut merupakan sumber pendapatan terbesar atau setara 59 persen dari total pendapatan perusahaan yang bernaung di bawah AAJI. Budi mengatakan, bancassurance berperan besar dalam meningkatkan total pendapatan premi tersebut.

“Menariknya, pertumbuhan total premi ini lebih banyak didorong oleh peningkatan premi yang masif dari saluran distribusi bancassurance. Pertumbuhan dari moda saluran yang memanfaatkan kerjasama antara perbankan dan asuransi ini memiliki pertumbuhan sekitar 55 persen dari periode sebelumnya. Dan hebatnya, bancassurance memiliki kontribusi lebih dari separuh dari total premi yang didapatkan di kuartal pertama tahun ini. Tepatnya sekitar 53 persen,” ujar Budi.

Pertumbuhan juga terjadi pada saluran distribusi alternatif sebesar 35 persen atau berkontribusi sebesar 18,8 persen pada total pendapatan Premi. Namun perlambatan terjadi pada saluran distribusi keagenan dan telemarketing, masing-masing sebesar 5,8 dan 14,3 persen.

“Jumlah agen mengalami penurunan karena produktivitas mereka juga terdampak oleh pandemi. Keterbatasan dalam bertemu secara tatap muka dengan calon nasabah menjadi penyebab utama dari menurunnya produktivitas, walaupun sudah adanya relaksasi yang diberikan oleh OJK,” tutur Budi.

Sementara itu Ketua Bidang Keuangan, Pajak dan Investasi AAJI Simon Imanto menjelaskan bahwa klaim dan manfaat di kuartal 1 tahun 2021 ini mencapai jumlah Rp. 47,68 triliun. Angka tersebut lebih besar 23,5 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yang mencapai Rp. 38,6 triliun.

AAJI juga berkomitmen dalam mendukung penanganan pandemi di Indonesia. Dalam periode Maret 2020 hingga Februari 2021, jumlah polis dengan klaim covid 19 tercatat mencapai 24.997 polis dengan total klaim senilai Rp 1,46 triliun. Dari jumlah ini, 87,41 persen diantaranya memiliki status klaim yang sudah selesai senilai Rp. 1,28 triliun. Sedangkan 12,59 persen lainnya masih berstatus dalam proses klaim senilai Rp. 184,37 miliar.

Sementara itu, dari laporan pembayaran klaim dan manfaat, AAJI menjelaskan bahwa total nilai tebus (surrender) menunjukkan kenaikan signifikan menjadi Rp. 28,54 triliun di kuartal I tahun 2021 dibandingkan Rp. 21,85 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Menurutnya, ini terjadi akibat peningkatan kebutuhan masyarakat akan uang tunai sehari-hari.

“Besaran nilai klaim surrender yang mengalami kenaikan sebesar 30,6 persen memperlihatkan banyaknya pemegang polis yang melakukan klaim surrender untuk mendapatkan dana. Namun, kami menyarankan nasabah cukup melakukan klaim partial withdrawal agar mereka tetap memiliki sebagian dana sekaligus masih memiliki perlindungan jiwa,” jelas Simon.

Selain itu, AAJI juga menjelaskan kondisi rebound yang terjadi di kuartal I ini adalah momen berbaliknya imbal investasi. Jika sebelumnya hasil investasi dana kelola asuransi jiwa mencatat total pendapatan negatif yang cukup signifikan di kuartal pertama tahun lalu, maka kini investasi yang dilakukan sudah positif.

Tercatat, hasil investasi industri asuransi jiwa mencapai Rp 2,44 triliun ini. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang mencatat kerugian investasi tak kurang dari Rp 47,83 triliun. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI