Pengaduan Layanan Konsumen ke OJK Tahun 2021 Paling Banyak Berasal dari Pinjol

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Anggota Dewan Komisioner Bidang Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tirta Segara mengatakan, dari Januari 2017 hingga 25 November 2021, pengaduan yang diterima OJK mencapai 595.521 atau meningkat 22 kali lipat dibanding tahun 2017 yang mencapai 25.742 pengaduan. Namun peningkatan terbanyak terjadi pada tahun 2021 di banding dengan tahun tahun sebelumnya.

“Pengaduan yang diterima OJK dari tahun 2017 hingga 2021 mencapai hampir 600 ribu pengaduan, atau naik 22 kali lipat . Dan paling banyak sejak pandemi terutama tahun 2021 ini,” kata Anggota Dewan Komisioner Bidang Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tirta Segara, dalam acara pelatihan dan media gathering bersama OJK di Bandung, Jumat hingga Minggu 3-5 Desember 2021.

Adapun pengaduan konsumen dari Januari 2021 hingga 25 November 2021 mencapai 133.158 layanan dengan pengaduan terbanyak berasal dari pinjaman online atau fintech yang mencapai 50.413 pengaduan. Umumnya pengaduan di fintech berupa penipuan, menelepon korban dan memberikan informasi palsu mengenai transfer ganda dari pinjaman online kemudian diminta mengembalikan dengan mengembalikan ke rekening penipu.

Kemudian pengaduan dari perbankan mencapai 49,205 dengan modus penipu menelepon korban dan mengaku karyawan bank, penipu memberikan informasi terkait transaksi yang harus dibatalkan kemudian meminta OTP yang dikirim ke ponsel korban.

Sementara untuk pengaduan IKNB pembiayaan mencapai 25.072 pengaduan dengan modua penipu mengaku karyawan lembaga pembiayaan laku meminta informasi akun korban. Informasi yang digunakan melakukan transaksi e-commerce sehingga korban memilik tagihan.

Sedangkan untuk asuransi mencapai 5,783 pengaduan dengan pengaduan kesulitan klaim asuransi, produk layanan asuransi tidak sesuai dengan penawaran. Sedangkan pasar modal mencapai 2.685 pengaduan umumnya tentang pengaduan perizinan profesi dan jasa penunjang, gagal bayar, legalitas LJK dan produk, permintaan tindak lanjut pengaduan, dan sistem informasi pengaduan OJK (SIPO).

Tirta menjelaskan pihaknya tak bisa menyelesaikan seluruh masalah yang diadukan konsumen, lantaran yang diselesaikan hanya pengaduan yang memiliki sengketa atau pelanggaran. “Kalau tidak ada sengketa seperti pengaduan meminta keringanan untuk mengangsur pembiayaan, OJK tidak bisa menyelesaikannya karena itu bukan wewenang kami,” katanya.

Tirta juga mengatakan, OJK mendorong layanan pengaduan dan penyelesaian sengketa di sektor jasa keuangan bagi konsumen melalui Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa (LAPS). Tirta mengatakan, sejak awal 2021, OJK telah mendukung beroperasinya LAPS yang terintegrasi untuk memudahkan masyarakat dalam mengupayakan penyelesaian sengketanya di sektor jasa keuangan.

“Mulai 1 Januari tahun ini, LAPS kita Integrasikan jadi. Sehingga saat ini cuma ada satu LAPS SJK. Bila ada penanganan kasus gini-gini nya mau dimediasi atau abitrase? dan nanti kita tangani oleh pihak OJK,” kata Tirta.

Adapun pengaduan sengketa ke LPAS hingga 24 November tahun 2021 yakni 1.161 permohonan sengketa, 116 sengketa belum di proses, 441 sengketa dalam proses dan 603 sudah selesai. Adapun 5 besar sengketa di LPAS hingga triwulan III tahun 2021 yakni restrukturisasi kredit (perbankan dan pembiayaan, dugaan penyalahgunaan data, keberatan atas tagihan, perilaku debt collector dan keberatan atas biaya tambahan. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI