Pengukuhan Gubes Sekum PP Muhammadiyah, Indonesia Masih Alami Masalah Intoleransi

JAKARTA, KRJOGJA.com – Indonesia masih mengalami masalah intoleransi baik ekonomi, kebudayaan, maupun keagamaan. Intoleransi ekonomi ditandai oleh kesenjangan ekonomi di mana terdapat sekelompok kecil masyarakat, bahkan individu, yang menguasai aset-aset ekonomi secara berlebihan dan terus-menerus melakukan ekspansi bisnis tanpa menghiraukan sebagian besar masyarakat yang hidup dalam kemiskinan.

Hal tersebut dikemukakan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Abdul Mu’ti dalam pengukuhan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (2/9). Mukti membacakan pidato berjudul ‘Pendidikan Agama Islam Yang Pluralistis: Basis Nilai dan Arah Pembaruan’ yang diikuti secara luring dan daring. Tampak hadir mantan Wapres Jusuf Kalla, Menko PMK Muhadjir Effendy, Mendikbud Nadiem Makarim. Sementara ucapan selamat secara luring disampaikan Wapres KH Ma’ruf Amin, Ketum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir, Ketua MPR Puan Maharani, Menteri Agama Fahrul Rozi, Mendagri Tito Karnavian, Kardinal Ign Suharyo, Pimpinan Persatuan Umat Buddha Indonesia P Wilaya dan lainnya.

Mukti tegas menyebutkan, terdapat sekelompok kecil masyarakat dengan ideologi budaya yang cenderung sekuler secara sistematis melakukan penetrasi budaya kepada khalayak melalui media massa, media sosial, dan kebijakan negara. “Tidak bisa dipungkiri, sedang terjadi hegemoni ekonomi dan tirani budaya di Indonesia. Intoleransi ekonomi dan budaya yang—sesungguhnya— memiliki daya rusak yang tinggi dan masif terhadap identitas dan persatuan bangsa tidak ditangani dengan serius,” tandasnya.

Padahal, pengalaman banyak negara menunjukkan betapa besarnya daya rusak dan kontribusi ketimpangan kesejahteraan.

BERITA REKOMENDASI