Peranan Perempuan di Kemlu Semakin Meningkat

Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif tersebut, Dubes Bagas Hapsoro, mantan Kepala Perwakilan RI untuk Swedia menyatakan pentingnya memperbaiki cara pandang dan mindset masyarakat terhadap keterlibatan perempuan. Fasilitasi peranan perempuan dalam membangun dan mendidik perempuan perlu dimulai sejak awal. Tidak boleh ada pembedaan dengan pria dalam pemberian kesempatan. Dalam buku yang ditulis 17 diplomat Kemlu tersebut 4 (empat) diantaranya adalah diplomat perempuan. Mereka tidak saja mewakili Indonesia, tetapi juga mampu menegosiasikan masalah-masalah untuk kepentingan nasional RI.

Sambutan hangat diberikan oleh Prof. Dr. Kgs. Muhammad Sobri, M.Si, Dekan FISIP Unsri saat membuka acara, yang mencatat antusiasme sekitar hampir 300 peserta yang mendaftar serta menyimak hingga akhir acara daring tersebut. “Pandemi Covid-19 memberikan hikmah pelaksanan kegiatan secara daring, sehingga dapat menghadirkan para Duta Besar penulis dan editor buku pada kesempatan ini”, kata Prof. Sobri. Diyakininya bahwa buku ini dapat menjadi referensi bagi mahasiswa dalam menimba ilmu dan pengalaman para diplomat,sehingga dapat meningkatkan kualitas akademik Indonesia di masa mendatang.

Selanjutnya Dr. H. Azhar, Kepala Jurusan Hubungan Internasional Fisip UNSRI menyatakan bahwa dalam konteks perubahan paradigma pendidikan nasional melalui program Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka, mahasiswa dituntut untuk tidak saja mendalami kajian teoritis, tetapi juga memperkuat mengenai aspek praktis di

lapangan. Disampaikan juga bahwa kesempatan bertemu langung dan berdiskusi dengan para Editor buku merupakan sesuatu yang tidak ternilai harganya.

BERITA REKOMENDASI