Perguruan Tinggi Diharapkan Menghasilkan Lulusan Unggul

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Presiden Joko Widodo mengatakan pendidikan dalam era digital serta masa pandemi ini perlu mengakselerasi metode edutech. Pembelajaran jarak jauh menjadi keniscayaan. Layanan pendidikan berbasis daring muncul di mana-mana. Akses pembelajaran dapat diperoleh dari berbagai sumber.

Pernyataan tersebut seperti menegaskan program percepatan pembangunan SDM Unggul 2020-2024 dimana Presiden menginginkan pendidikan tinggi, pendidikan kejuruan, SMK, dihubungkan dengan dunia industri agar lulusan sesuai dengan kebutuhan dan siap untuk hal-hal yang baru.

“Lembaga pendidikan tinggi harus memperkuat posisinya sebagai edutech institutions. Artinya, perguruan tinggi harus menghasilkan lulusan yang unggul dan utuh,” kata Ketua Forum Rektor Indonesia Panut Mulyono pada Webinar E-Resources Perpustakaan Mendukung Kampus Merdeka, Senin, (20/12/2021).

Laju Industri 4.0 membawa dampak akan hilangnya 23 juta bidang pekerjaan yang ada saat ini, kemudian digantikan otomasi pada 2030. Pekerjaan yang beresiko hilang adalah pekerjaan yang bersifat repetisi (pengulangan), seperti data entry, machine operator, dan data collection.

Namun, disisi lain menciptakan peluang 27-46 juta pekerjaan baru, dimana 10 juta diantaranya adalah jenis pekerjaan yang belum pernah ada sebelumnya. Sehingga kampus diharapkan pemerintah dapat menjadi perguruan tinggi yang berdaya saing.

Artinya, ada perubahan dan pembaruan pendidikan yang mengkombinasikan keunggulan akademik, kebutuhan pasar, dan kebutuhan masyarakat. “Arus perubahan dan kebutuhan akan link and match dengan dunia usaha dan dunia industri. Nah, Kampus Merdeka Merdeka Belajar (KMMB) diharapkan dapat menjadi jawaban atas tuntutan tersebut,” jelas Rektor Universitas Teknologi Sumbawa Chairul Hudaya.

Kampus Merdeka merupakan wujud pembelajaran di perguruan tinggi yang otonom dan fleksibel sehingga tercipta kultur belajar yang inovatif, tidak mengekang, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

Kaitannya dengan program kampus merdeka, perpustakaan menjadi komponen krusial dalam atmosfir akademik kampus. Apalagi orientasinya agar lulusan menjadi kompatibel, semakin adaptif, lebih responsif, serta menjadi kontekstual.

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando mengatakan perpustakaan ruang terbuka untuk siapa saja. Sejak 2016, perpustakaan telah mengalami perubahan paradigma, dari pelayanan konvensional ke digital.

Senada dengan Kepala Perpusnas, Plt Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi Nizam mengatakan meski saat ini sudah masuk era digital teknologi tetapi penguasaan literasi adalah kemampuan fundamental suatu bangsa.

“Perluasan akses layanan digital bertujuan untuk mendukung SDM unggul, memiliki kreativitas, berinovasi tinggi yang pada akhirnya mampu menciptakan lapangan kerja, mengurangi pengangguran dan menaikkan income per kapita” ujar Syarif Bando.

Sementara itu, Direktur Perpustakaan Universitas Surabaya Amirul Ulum mengatakan e-resources merupakan salah satu komponen penting pada pelayanan perpustakaan perguruan tinggi sebagai penyedia media komunikasi ilmiah dalam dunia pendidikan dan penelitian.

“Keberadaan e-resources juga bermanfaat praktis bagi perguruan tinggi sebagai salah satu komponen krusial dalam percepatan peningkatan kompetensi dan kualitas SDM,” ujarnya. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI