Perlunya Inovasi Metode Pembelajaran Efektif di Era Normal Baru

Editor: KRjogja/Gus

JAKARTA, KRJOGJA.com – Dampak yang ditimbulkan pandemi Covid-19 sangat luas dan bersifat multi dimensi, tanpa terkecuali di bidang pendidikan keagamaan. Oleh karena itu, lembaga yang bertanggung jawab di bidang pendidikan ini perlu berinovasi dalam mencari solusi secara bersama pada metode pembelajaran bagi para murid dan santri yang lebih efektif terlebih dalam memasuki masa Tatanan Normal Baru (New Normal).

Hal itu diungkapkan Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin pada acara Seminar Nasional Virtual bertajuk “Madrasah Diniyah Takmiliyah: Hambatan dan Harapan Menghadapi New Normal” yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (DPP-FKTD) di Jakarta. Rabu (24/6).

“Kita mengajak pengelola pesantren, guru, orang tua, santri dan calon santri, para pakar pendidikan dan perlindungan anak agar diperoleh solusi terbaik untuk pendidikan anak. Misalnya dengan inovasi bentuk pembelajaran kelompok-kelompok kecil dan penyesuaian kurikulum dengan format pembelajaran jarak jauh. Hal ini perlu dilakukan karena adanya perbedaan karakter antara belajar tatap muka dengan belajar jarak jauh,” ujar Wapres.

Lebih lanjut Wapres menyampaikan bahwa hal ini perlu dilakukan mengingat ilmu agama tidak bisa hanya didekati semata dengan cara mengalihkan pengetahuan ke peserta didik (transfer of knowledge). Tetapi juga perlu ditekankan pada internalisasi dan penanaman nilai kepada peseta didik.

“Ilmu agama yang berupa pengetahuan dapat dicarikan solusinya dengan belajar di rumah melalui internet. Namun hal itu tidak bisa menjadi solusi untuk internalisasi dan penanaman nilai keagamaan, karena memerlukan tatap muka langsung (muwajahah/mushafahah) dan keteladanan (uswah hasanah) dari pembimbing rohani (mursyid/murabbi),” ungkap Wapres.

Wapres menekankan pentingnya melindungi dan menjamin hak para peserta didik. Hal ini dikarenakan jumlah peserta didik Madrasah Diniyah Takmiliyah sangatlah besar yakni sebanyak 6.369.382 orang santri dari 86.390 lembaga di seluruh Indonesia, dengan jumlah tenaga pendidik sebesar 451.823 orang sehingga diperlukan perhatian yang serius dari seluruh pihak terkait.

BERITA REKOMENDASI