Permintaan Batu Bara Diperkirakan Stagnan

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan batu bara global akan memasuki periode stagnasi hingga 2023. Pada periode tersebut, permintaan akan tumbuh di sejumlah negara tetapi akan turun di negara lain.

Direktur Pasar dan Keamanan Energi IEA Keisuke Sadamori mengungkapkan tahun depan permintaan batu bara secara umum masih akan tumbuh seperti tahun lalu yang hanya sebesar satu persen. Kondisi itu diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2023.

Permintaan batu bara tumbuh kuat di India, Korea, dan Asia Tenggara (Indonesia, Vietnam, Malaysia, Filipina). Batu bara masih menjadi pilihan karena tersedia dengan harga yang relatif murah dibandingkan sumber energi primer lain, terutama untuk ketenagalistrikan.

Khusus untuk wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, pertumbuhan permintaan akan berkisar lima persen per tahun hingga 2023. "Meningkatnya penggunaan batu bara untuk ketenagalistrikan akan mendorong konsumsi di beberapa negara di Asia Tenggara," ujar Sadamori.

Di sisi lain, permintaan batu bara di Eropa dan Amerika Utara menurun karena kebijakan terkait kualitas udara dan iklim yang memicu peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan. Secara global, IEA memperkirakan kontribusi batu bara pada bauran energi global bakal menurun dari 27 persen pada 2027 menjadi 23 persen pada 2023. (*)

BERITA REKOMENDASI