Permintaan Ekspor Produk UMKM Tinggi Saat Pandemi

Editor: Ary B Prass

Meski permintaan dua produk itu tinggi, namun dipaparkan UMKM di Sulawesi dan Jawa Barat tidak bisa memenuhi permintaan karena berbagai kondisi.
Mulai dari persoalan kapasitas produksi sampai manajemennya. Sementara hingga kini, kontribusi ekspor UMKM masih di angka 14,37 persen.
Dalam kondisi saat ini, katanya, UMKM dapat fokus untuk pasar dalam negeri yang mampu mensubstitusikan produk impor. Seperti buah-buahan maupun fesyen muslim yang dibatasi impornya.
Jika ekonomi bisa segera pulih seutuhnya, ia berharap sektor konsumsi dalam negeri yang bisa terus naik. Pasalnya, ekonomi Indonesia ditopang konsumsi rumah tangga hingga 53 persen.
Menkop-UKM optimis pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) membuat kegiatan ekonomi segera terdongkrak.
“Jadi sekarang program kami terus memikirkan bagaimana UMKM survival, dan menyiapkan juga transformasi UMKM pasca COVID-19 nanti,” imbuhnya.
Martini, pemilik usaha Martini Natural yang memproduksi berbagai kerajinan mulai dari sandal, rajut, homedecore, dan tas anyaman, merasakan kesulitan ketersediaan kontainer di saat pandemi.
Sehingga, kegiatan ekspor produk Martini ke Kanada dan Amerika Serikat jadi terganggu. Ditambah, tokonya harus ditutup sementara karena ada pembatasan aktivitas masyarakat.
Senada, Ketua Koperasi Srikandi Sri Susilowati menyampaikan keluhannya terkait ekspor, namun tetap masih selalu memenuhi permintaan dalam negeri.
Dia menginformasikan, Koperasi Srikandi memproduksi olahan dari kelapa berupa gula semut dan gula cair.
Permintaan gula cair paling banyak hingga mencapai 168 ton saat ekspor. Adapun kapasitas koperasi tersebut bisa mencapai 200 ton gula per minggu.(Ati)

BERITA REKOMENDASI