Peta Jalan Pendidikan 2020-2035 Menghilangkan Jati Diri Bangsa

JAKARTA, KRJOGJA.com – Peta jalan pendidikan Kemendikbud RI 2020-2035 yang modern, sistimatis, terstruktur berbasis kondisi saat ini dan bervisi futuristik.

“Namun demikian, justru menghilangkan jati diri bangsa, masih terasa kekosongan jiwa, tidak adanya roh dan akar unggulan budaya, religi, nusantara, historis dan jiwa perjuangan nasionalisme,” ujar Ki Prof Cahyono Agus, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pusat Perkumpulan Keluarga Besar Tamansiswa (PKBTS) kepada KRJOGJA.com, Minggu (22/11/2020).

Hal ini disampaikan saat Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panja Peta Jalan Pendidikan Komisi X DPR RI Ruang Rapat Komisi X DPR RI Gedung Nusantara I Jakarta, 19 November 2020. Bersamanya, juga diundang serta menyampaikan pendapat adalah Dekan Ilmu Pendidikan dan Keguruan Universitas Muhammadiyah Malang; Indra Charismiadji (Pengamat Pendidikan); Ubaid Matraji (Kornas JPPI). RPDU membahas tentang Kajian Konsep Peta Jalan Pendidikan 2020-2035 Kemendikbud RI dan belanja masalah aspek kebijakan pendidikan dasar, menengah dan kejuruan (Merdeka Belajar).

Konsep peta jalan masa depan dan konsep Merdeka Belajar yang diusulkan masih kental mengacu dan mengunggulkan pada konsep modern luar negeri, namun tidak memperhatikan histori peta jalan pendidikan yang pernah dilampaui sejak belum zaman merdeka. Dengan demikian justru malah kehilangan jati diri bangsa, tidak mengacu apalagi mengakar kuat pada budaya unggulan dan norma yang berkembang pada masyarakat sejak lama. Track record seabad kiprah Tamansiswa oleh Ki Hadjar Dewantara tahun 1922, Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan tahun 1912, Nahdatul Ulama oleh KH Hasyim Ashari tahun 1926 tidak menjadi pertimbangan, apalagi menjadi acuan penting, bahkan cenderung diabaikan.

BERITA REKOMENDASI