Polri Waspadai ‘Foreign Terorist Fighter’

HANOI (KRjogja.com) – Terorisme sebagai salah satu kejahatan lintas negara, merupakan ancaman bersama di seluruh negara di dunia, termasuk juga di kawasan ASEAN. Hingga saat ini, bentuk kejahatan teror juga terus berkembang. Baik dari kemampuan personil hingga sumber dana. Bukan hanya itu, para pelaku kejahatan ini juga melakukan penyesuaian dengan perubahan zaman dalam cara melakukan kejahatannya. 

Ketua Senior Official Meeting of Transanational Crime (SOMTC), Komjen Pol Ari Dono Sukmanto menyampaikan pemaparan identifikasi atas perkembangan dan pengembangan kejahatan terorisme, dalam dialog keamanan antara pihak Kepolisian Vietnam dan Indonesia, di kantor Minister of Public Security di Hanoi, Vietnam. 

Menurut Kabareskrim Mabes Polri ini  bentuk dari terorisme masa kini justru menuntut kewaspadaan lebih dari seluruh masyarakat dunia.  "Dunia, termasuk juga ASEAN, mesti mewaspadai mereka yang dikenal sebagai Foreign Terrorist Fighter (FTF). Khususnya mereka yang kembali ke negara masing-masing usai bergabung dengan ISIS atau kelompok teroris lainnya. Mereka ini potensial mulai dari menjadi penyebar ideologi radikal hingga melaksanakan kegiatan tekhnis aksi teroris lainnya. Oleh karena itu, seluruh masyarakat dunia ini harus tetap waspada dan terus memantau kegiatan mereka, tentunya dengan tetap menggunakan peraturan perundang-undangan dari negara masing-masing," ungkap Ari sebagaimana keterangan resmi Bareskrim Mabes Polri kepada KRjogja.com, Sabtu (10/09/2016) 

Berdasarkan data, jaringan terorisme masa kini terbangun di level lokal, regional hingga internasional. Indikasinya terlihat, misalnya saja, di Malaysia ada serangan teror, maka kelompok Abu Sayyaf di Filipina hingga Thailand juga melakukan serangan secara sporadis. Vietnam sendiri, tercatat, nyaris tidak pernah mengalami permasalahan terorisme dalam skala besar. Tapi kemudian, antisipasi tetap dilaksanakan oleh pemerintah Vietnam dengan meratifikasi regulasi penanggulangan terorisme dari Perserikatan Bangsa-bangsa. Selain itu, sebagai satu bagian dari ASEAN, Indonesia mengajak Vietnam agar kawasannya tidak menjadi lalu lintas pelaku teroris.

Karena itu, tambah Ari, menanggulangi masalah terorisme membutuhkan kreatifitas yang justru harus melampaui pemikiran para pelaku kejahatan teror. Selain menjalin lebih erat lagi hubungan dengan lembaga-lembaga penanggulangan teroris internasional termasuk badan-badan intelijennya dengan bertukar informasi, memberi kesadaran kepada masyarakat khususnya di kawasan ASEAN menjadi salah satu kunci menghalau paham teror ini. (*)

BERITA REKOMENDASI