Ponpes Wali Barokah Kembangkan PLTS dan PLHTM

KEDIRI, KRJOGJA.com – Penggunaan teknologi Pembangkit Listri Tenaga surya (PLTS)  dan Air (PLTHM) secara mandiri, belum banyak di kembangkan karena dinilai terlalu mahal. Padahal teknologi pembangkit listrik tersebut dapat memenuhi kebutuhan listrik secara mandiri. Pondok Pesantren Wali Barokah, Kediri dan perkebunan teh Jamus,  Ngawi merupakan contoh bagaimana mereka memenuhi listrik secara mandiri itu. 

Ir.  Horisworo,  Tim Proyek PLTS dan PLTBM, mengatakan penggunaan prmbangkit listril dan Air tersebut,  sangat mungkin di kvangkan di Indonesia hingga pelosok tanah air. " Sebab Indonesia sangat kaya dengan sumber energi tersebut. Selama ini pengembangan listrik lebih banyak menggunakan energi fosil alias BBM, " kata Harisworo kepada wartawan di Kediri,  Senin (18/3).

Pengembangan PLTS Wali  Barokah Kediri yang merupakan pondol pesantren (Ponpes) Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII),  termasuk modern,  dengan pemsangan panel surya seluas 41 meter x 40 meter diatas masjid, mampu menghasilkan 521.000 KWH. "Jika penggarapan itu sudah selesai,  mungkin hasilnya bisa lebih,. Namum dengan jumlah iti saja dapat memenuhi kebutuhan listrik yang dibutuhkan pondok pesantren, " kata Horisworo. 

Pondok pestren Wali Barokah Kediri dipimpin H. Sunarto yang dibangun seluas 4,5 ha,  memiliki sekitar 4000  santri,  selama aktivitasnya saat ini hanya membutuhkan energi listrik sekitar 8000 kwh. Sehingga memiliki kelebihan pasola listrik dari PLTS tersebut. Kelebihan teraevut dapat digunakan untuk aktivitas lainnya yang lebih bermanfaat "Selebihnya akan disimpan dalam batrei joka ada gangguan listrik dapat bertahan srlam 3 hari, " jelas Horis. 

Diakuinya untuk mengembangkan PLTS tersebut, membutuhkan investasi awal cukup besar. Untuk pembelian panel surya yang kelas premium dari Kanada dengan luas  40 x 41 meter seharga Rp 3 miliar. Namun investasi itu akan tertutup kurang dari setahun,  sebab mampu menghemat pengeluaran rutin perbulan hingga 60 persen. 

Dengan tingkat efesiensi tersebut,  kini kegiatan Ponpes Wali Barokah, terus berbenah mengembangkan tehnologi energi alternatif lainnya,  termasuk eneregi gas yang menggunakan bahan sampah Ponpes.  Sehingga mampu memenuhi energi gas secara mandiri. " kita sedang kembangkan sambah untuk menuhi kebutuhan gas.  Sehingga smpah tidak menjadi problem bagi Ponpes, " ujar Horis. 

Sebelumnya,  untuk memenuhi kebutuhan energi listrik secara mandiri juga dikembangkan pembangkit lisrik berskala kecil,  pembangkit listrik mikro hidro (PLTMH) di pabrik teh Jamus di Ngawi. 

Pabrik teh peninggalan Belanda. tahum, 1928 seluas 478 ha itu,  semula digarap menggunakan bahan bakar minyak ( BBM)  dan kayu bakar.  Kini semuanya menggunakan listrik secara mandiri PLTMH. 

PLTMH  yang dirancang oleh Horisworo teraebut, pada tahun 2007.  Menurut Purwanto wahyu,  Pimpinan Perkebunan Jamus,  untuk satu unitnya mampu memghasilkan 100 kwh dengan investasi awal sebesar Rp 1,7miliar.  Kemudian setelah itu dibangun satu unit lagi dengan biaya Rp 900 juta dengan menghasilkan 100 kwh dan setahun kemudian disusul pembangunan lagi yang melewati tanah masyarakat dengan menghasilkan 50 kwh. (Sim)

BERITA REKOMENDASI