Potensi Ekraf Bogor Dari Lilin hingga Barongsai dan Liong

Editor: Ivan Aditya

BOGOR, KRJOGJA.com – Bogor punya potensi ekonomi kreatif yang luar biasa. Sayangnya belum banyak diketahui orang dan belum terjamah oleh program pemerintah maupun swasta. Diantaranya, barongsai, naga (liong) dan lilin.

Lili Hambali, pengrajin barongsai dan liong memulai usahanya sejak tahun 2000. Dengan memanfaat halaman rumahnya di Jalan Roda, Gang Angbun No. 2 Kota Bogor, Jawa Barat sebagai tempat produksi barongsai dan liong.

Setiap hari, Lili Hambali dibantu 5 karyawannya memproduksi barongsai dan liong. Namun kegiatan produksi sempat berhenti selama hampir 2 tahun atau selama pandemi, karena tidak ada yang pesan atau yang beli. Namun pada akhir tahun 2021 atau setelah dilonggarkannya PPKM dan menjelang imlek, pesanan mulai berdatangan, walau tidak sebanyak sebelum pandemi.

“Menjelang imlek tahun ini mulai ada pesanan, tapi sejak pandemi kami tidak berproduksi karena tidak ada yang pesan, karena semua kerumunan tidak boleh,” tegas Lili Hambali disela sela acara Explore Bogor, Bergerak Bersama Menuju Pariwisata Bangkit, Kerjasama Bank Negara Indonesia (BNI) dengan Mapnus, di Bogor Sabtu (19/02/2022).

Lili Hambali menjelaskan dalam membuat barongsai dan liong 70 persen bahan baku barongsai masih diimpor dari China dan 30 persennya dari bahan baku lokal. “Sebanyak 70 persen bahan baku berupa bulu domba dan kelinci masih diimpor dari China termasuk untuk bagian matanya sedangkan untuk kerangka menggunakan bahan dari Indonesia yakni rotan yang didapati dari Kalimantan,” ucapnya.

Pada imlek tahun ini, Lili Hambali memproduksi 20 barongsai. Bahkan, saking tersohor produksinya baik barongsai dan liong diproduksi Lili Hambali ini, tidak hanya memenuhi pasar dalam negeri saja, tetapi juga di ekspor ke Australia, Arab Saudi, hingga daratan Eropa seperti Jerman.

Dalam prosesnya dibutuhkan waktu seminggu buat mengerjakan satu unit barongsai. Tetapi pembuatan liong bisa lebih lama karena tergantung cuaca. Pasalnya setelah liong di cat harus di jemur di bawah terik matahari. Lili juga menambahkan, untuk warna dan model bisa dipesan sesuai keinginan konsumen. “Pembuatan liong itu biasanya lebih lama, karena setelah di cat harus di jemur, tahu sendiri Bogor sering hujan makanya lama keringnya,” ujarnya.

Seperangkat barongsai dan liong dijual sekitar harga Rp 6 juta hingga Rp 8 juta. “Kami pernah mengirim barongsai ke daerah-daerah di Indonesia, mulai dari Sabang hingga Manokwari. Permintaan paling banyak dari Bandung, Bali dan Riau. Beberapa tahun belakangan ini, kami ekspor barongsai ke Australia tahun lalu dan Arab Saudi dan Jerman di tahun ini,” ujarnya.

Untuk kualitas, barongsai dan liong yang diproduksi Lili Hambali tak perlu diragukan lagi. Hal ini diakui Aang Wiguna. Remaja yang satu ini bersama dengan teman-temannya datang dari Karawang ke Bogor untuk memesan barongsai. “Saya dan teman-teman pesan barongsai di sini karena kualitasnya bagus,” ujarnya.

Lilin

Selain barongsai dan liong, di Bogor juga ada tempat pembuatan Lilin yang biasa digunakan di vihara maupun perayaan Imlek. Menurut pemilik pembuatan lilin Panggah Suryono produksi lilin mereka berbagai ukuran.

Usaha miliknya telah ditekuni sejak 2001 berada di Kampung Ciletuh, Desa Ciderum, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. “Biasanya pelanggan dari sekitar Bogor. Kami juga mengirim ke Pulau Sumatera dan Kalimantan kalau ada pesanan,” ucapnya.

Namun saat ini produksi lilin sempat berhenti karena pandemi, ditambah tingginya harga bahan baku pembuatan lilin terutama minyak sawit mentah (CPO). Namun seiring mulai meredanya pandemi, produksi lilin perlahan mulai bangkit secara perlahan. Apalagi saat ini karyawannya juga tinggal 6 orang.

“Harga CPO melonjak tinggi membuat kami kesulitan untuk membuat pasokan lilin, ditambah dengan kehadiran para pemain besar seperti industri besar membuat kami kewalahan,” ujarnya.

Belum ada bantuan

Apa yang dilakoni oleh Lili Hambali dan Panggah Suryono tidak disupport oleh pemerintah, bahkan mirisnya keduanya pun tidak memperoleh bantuan dari pemerintah. “Bantuan dari Pemda belum ada, termasuk bantuan untuk UMKM. Untungnya, saya banyak teman. Jadi kalau kesulitan dana, saya pinjam dari mereka,” tutur Lili Hambali.

Senada dengan Lili, Panggah Suryono, pengrajin lilin mengaku belum pernah dapat bantuan usaha dari pemerintah maupun swasta. “Sampai sekarang belum memperoleh bantuan usaha dari pemerintah dan bank. Untuk bisa bertahan, kami berjualan bakso, soto dan budidaya jahe,” katanya lagi.

Melihat hal itu, membuat MAPNUS, Organisasi yang didalamnya tergabung media asosiasi praktisi pariwisata nusantara (Mapnus) melihat dengan cermat bahwa potensi tersebut harus muncul kepermukaan. Sehingga, sentuhan pemerintah pun bisa dirasakan para UMKM yang selama ini berberan menumbuhkan ekonomi masyatakat sekitar.

Dengan berkolaborasi MAPNUS dengan BNI terkait dengan kendala yang dihadapi pengrajin barongsai, liong, dupa dan lilin di Bogor, BNI menawarkan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

KUR merupakan kredit bersubsidi dari pemerintah dengan bunga 6 persen per tahun. Bagi yang ingin mengajukan KUR dapat mengakses https://eform.bni.co.id/BNI_eForm/kurOption.

Untuk diketahui selama tahun 2021 kredit BNI tumbuh sebesar 5,3 persen yoy menjadi Rp 582 44 triliun. Adapun penyalurkan kredit di sektor Business Banking penyaluran terutama pembiayaan ke segmen Korporasi Swasta yang tumbuh 7,6 persen yoy menjadi Rp 180,4 triliun; segmen Large Commercial yang tumbuh 10,4 persen yoy menjadi Rp 40,9 triliun; segmen kecil juga tumbuh 12,9 persen yoy dengan nilai kredit Rp 95,8 triliun. Secara keseluruhan kredit di sektor Business Banking tumbuh 4,5 persen yoy menjadi Rp 482,4 triliun.

Sementara di sektor Consumer, kredit terbesar yang tumbuh adalah kredit payroll, yaitu naik 18,3 persen yoy menjadi Rp 35,8 triliun; kemudian kredit kepemilikan rumah (mortgage) tumbuh 7,7 persen yoy menjadi Rp 49,6 triliun. Secara keseluruhan kredit consumer tumbuh 10,1 persen yoy menjadi Rp 99 triliun. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI