Prof Subroto Dukung Sudirman Said Maju Pilgub Jateng

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Mantan Sekjen organisasi negera-negara pengekspor minyak (OPEC), Prof Subroto merasa senang mendengar junironya yakni mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudriman Said terpanggil untuk ikut dalam Pilgub Jawa Tengah 2018. Mengetahui Sudirman akan maju dalam Pilgub Jateng 2018, Subroto memberikan banyak masukan serta nasihat politik dan ekonomi kepada Ketua Tim Sinkronisasi Anies-Sandi ini.

“Ini boleh, jangan ingin pulang kampung kemudian jualan telur asin seperti saya baca di media. Lebih baik maju pilkada jadi Gubernur dari pada bilang mau pulang ke Brebes jualan telor asin," kata Mantan Menteri Pertambangan dan Energi dua periode (1978-1988) dalam pertemuan dengan Sudriman Said di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Secara politik, menurut Subroto ada lima hal yang dapat membuat suatu bangsa atau wilayah maju dan mampu mengejar ketertinggalannya. Pertama, pemimpin yang visioner dan mengayomi rakyatnya.

Seorang yang menjadi pemimpin harus bisa memberikan rasa aman dan nyaman kepada khalayak atau rakyat yang dipimpinnya. Kedua, rakyat yang patuh kepada pemimpinnya.

“Jawa Tengah itu rakyatnya manutan (patuh) pada pemimpin. Sehingga tidak sulit diajak bergerak untuk membangun daerahnya,” kata Subroto, yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Transmigrasi dan Koperasi (1971-1973) dan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Koperasi (1973-1978).

Ketiga dari sisi geografis letak Jateng sangat strategis karena menjadi daerah perlintasan perdagangan antara Jatim ke Jabar, dan sebaliknya. “Posisi ini sangat menguntungkan secara ekonomi,” kata Subroto.

Kemudian yang keempat, harus dibangun talent pool, orang-orang berbakat yang bisa menjadi pandu perjuangan, manggala pembangunan. Terakhir, Jateng memiliki banyak media massa, yang bisa dijadikan mitra untuk menyebarluaskan program-program pembangunan.

Sementara itu secara ekonomi, Guru Besar Fakultas Ekonomi UI ini menekankan perlunya menjaga pertumbuhan ekonomi, inklusifitas, mempersempit kesenjangan sosial agat tidak terlalu lebar. Selanjutnya perlu mangamalkan tut wuri handayani,  yang maknanya di belakang mengawal program-program yang baik.

Yang terakhir, menciptakan pembangunan yang berkualitas. Bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan manusia. Sehingga lahir SDM-SDM unggul dari Jateng.  “Pembangunan yang tidak sekedar mengejar angka pertumbuhan, tetapi pembangunan yang hasilnya bias dirasakan rakyat banyak,” tandas dia.

Sudirman Said menyimak dengan seksama dan tanpak menikmati diskusi dengan Prof Subroto. "Saya selalu menikmati diskusi dengan beliau. Tidak banyak tokoh dengan usia senior tapi masih up to date dan tajam dalam menganalisis situasi," ujar Sudirman. (*)

BERITA REKOMENDASI