Puan Maharani : Perempuan Berkebudayaan, Cakap Wawasan

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Dalam konstelasi bangsa Indonesia, sistem demokrasi merupakan amanah konstitusi yang mesti diaktualisasikan secara komprehensif. Sistem ini diyakini dapat memberikan kontribusi positif dalam setiap sendi kehidupan masyarakat. Hilangnya otoritarianisme dari sistem pemerintahan menyebabkan kritisisme publik memiliki signifikansi dan berdampak pada sistem kehidupan sosial yang jauh lebih terbuka.

Hal ini tentunya merupakan peluang potensial untuk dioptimalkan oleh berbagai elemen masyarakat untuk ikut bersinergi membangun Ibu Pertiwi. Dalam kehidupan politik, sistem demokrasi tidak lagi menempatkan laki-laki sebagai superior dan perempuan sebagai inferior. Adanya equality before the law dan konstruksi sosial yang terbuka berdampak pada kesetaraan gender sehingga perempuan di era aktual mampu menduduki jabatan politik strategis.

Sebut saja perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI periode 2019-2024, Puan Maharani. Berbekal Karakter, Kompeten, dan Kapasitas yang dimiliki mampu membuat dirinya saat ini menduduki jabatan politik strategis. Puan menjadi sosok emansipator yang diharapkan mampu menstimulasi perempuan di seluruh Indonesia untuk ikut berpartisipasi aktif dalam dunia politik.

Selain faktor internal yang membuat dirinya matang secara politik, pencapaian Puan yang prestisius tersebut juga tidak lepas dari adanya iklim yang favorable dalam sistem sosial. Adanya mobilitas sosial yang terbuka tentunya menjadi daya dorong bagi dirinya untuk melompat lebih jauh dan mengepakkan sayap kebhinekaannya guna mendedikasikan diri untuk rakyat. Keterlibatan dalam dunia politik sudah diarunginya sejak muda, telatnya ketika Puan senantiasa menemani ibunya yang juga merupakan Ketum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Pengalaman politik di lapangan membuat paradigma politiknya tidak sekedar berkutat pada aspek praktis, tapi juga merambah ke hal yang bersifat ideologis. Bagaimanapun juga, Puan berparadigma untuk terus menciptakan produktivitas dan progresivitas kehidupan masyarakat tanpa meninggalkan aspek sosial-kultural. Langkah tersebut tentunya merupakan perpaduan skema yang integratif guna menciptakan pembaharuan kehidupan masyarakat tanpa melunturkan tata nilai dan norma yang menjadi landasan hidup.

Sebut saja ketika Mantan Menko PMK tersebut melakukan kunjungan kerja di Yogyakarta. Kamis, (11/11/2021). Di tengah hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Sleman, dirinya tetap bersikukuh ikut menanam padi dengan petani lokal. Hal ini dilaksanakan sebagai aktualisasi fungsi aspirasi. Sebagai seorang legislator, tentu Puan mengharapkan adanya partisipasi dari publik termasuk dari petani terkait polemik dan problematika yang dihadapi. Realitas di lapangan ini nantinya menjadi sumber data yang kredibel untuk ditindaklanjuti dengan regulasi maupun program kebijakan.

“Saya ingin mengetahui apa saja kebutuhan dan permasalahan yang ada di sini terkait petani. Bagaimana menanam padi, panennya dan sesudah panen itu dijual atau dibeli ke mana. Itu yang jadi perhatian saya,” ungkap Puan.

Di sisi lain, Puan juga menyoroti tentang adanya perubahan konsepsi dalam diri pemuda. Pengaruh westernisasi yang masif pada faktanya membawa dampak destruktif berupa hilangnya minat generasi muda untuk mengembangkan pertanian. Mereka berpandangan bahwa petani adalah profesi kuno yang tidak menjanjikan. Padahal, komoditas pertanian masuk ke dalam kategori kebutuhan primer manusia. Tanpa pertanian, tentu saja kedaulatan pangan bangsa Indonesia tidak dapat tercapai.

Untuk itu, skema integratif menjadi alternatif solutif untuk mengatasi dinamika tersebut. Adanya perkembangan teknologi yang pesat tentu saja bisa dioptimalkan untuk mendongkrak kualitas dan kuantitas komoditas pertanian. Di sisi lain, inovasi teknologi juga bisa diterapkan khususnya dalam pengembangan pasar melalui website. Jangkauan yang luas dari internet diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi para petani dan nilai jual komoditasnya terkatrol naik. Untuk itu, Puan terus mendorong berbagai stakeholders untuk terus melakukan inovasi sehingga pertanian di Indonesia dapat maju.

“Website itu contoh baik penggunaan teknologi untuk membantu para petani. Perlu diperbesar lagi jangkauannya dan diperlengkap fitur-fiturnya. Petani memang perlu melek teknologi,” tutur Ketua DPP PDI Perjuangan tersebut.

Setelah menelisik secara mendalam terkait bidang pertanian, Puan juga menyempatkan diri untuk mengetahui kehidupan ekonomi di masyarakat. Bagaimanapun juga, Pandemi Covid-19 adalah tantangan tersendiri yang telah menghambat roda perekonomian masyarakat. Aktivitas warga yang berkurang akibat diterapkannya kebijakan PSBB dan PPKM tentu harus diberikan perhatian yang intensif. Untuk itu, kehadiran Puan di angkringan Mbah Giyo selain memborong dagangannya juga ditujukan untuk menggali informasi sehingga nantinya bisa digunakan pada mekanisme formulasi kebijakan.

Tidak hanya itu, eksistensi balita juga senantiasa dipikirkan oleh Puan. Hal ini terefleksi ketika dirinya menyambangi salah satu posyandu yang lokasinya tidak jauh dari angkringan Mbah Giyo. Ia menanyakan banyak hal mulai dari mekanisme menjalankan program posyandu di era pandemi hingga tantangan yang dihadapi oleh kader posyandu. Sebagai upaya character building, Puan juga juga memberikan buku dan alat tulis kepada anak-anak.

Sebagai seorang yang matang dalam dunia politik baik teori maupun praktik, Puan senantiasa berkeinginan untuk menumbuhkan semangat pada generasi muda sehingga bisa memberikan kontribusi positif kepada bangsa dan negara. Hal ini terefleksi ketika dirinya memberikan kuliah umum di Universitas Negeri Yogya. Pada kesempatan tersebut, Puan berbagi pengalaman terkait dinamika internasional dalam mengembangkan potensi lokal daerah.

Dalam penyampaiannya, Puan menekankan supaya pemuda saat ini tidak apatis terhadap budaya bangsa dan potensi lokal daerah. Konsepsi westernisasi dalam konstelasi global mulai luruh tergantikan budaya timur seperti Korea Selatan. Progres yang dilakukan oleh Korsel tersebut dapat teraktualisasikan secara sistematis karena adanya partisipasi dari warga negara untuk terus merawat rasa kebanggaan terhadap bangsa dan negara. Untuk itu, skema tersebut tentunya harus diadopsi dan diadaptasikan dengan dinamika yang ada di bangsa Indonesia dengan harapan nantinya akan muncul progresivitas dan produktivitas.

“Mengapa Indonesia tidak bisa seperti itu? Indonesia yang maju artinya kita menjadi global leader, bukan follower. Bukan kita yang mengikuti trend duni, justru kita yang menciptakan tren yang kemudian diikuti masyarakat dunia,” pungkas Puan. (*)

BERITA REKOMENDASI