Putri Santoso, Mengajarkan Kesetaraan dari Secangkir Kopi

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Anak muda harus punya keberanian mengambil risiko meski di tengah keterbatasan. Percaya pada kemampuan sendiri, pantang menyerah secara perlahan akan menuntun ke arah keberhasilan.

Pernyataan tersebut ditegaskan Putri Santoso, pendiri Warung Kopi “Kopi Tuli” dalam acara Webinar Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh yang bertajuk “Tangguh Tanpa Mengeluh” pada Rabu (18/08/2021).

Putri mengakui meski berat karena hambatan yang dialami sangat besar, baik sebelum pandemi maupun setelah virus Covid-19 merebak di tanah air bahkan seluruh dunia. Namun semangat ini yang selalu dipegang untuk terus maju.

“Harus berani mengambil resiko apapun, yang kedua jangan malu jangan minder. Jangan malu kita harus berani yang penting semangat berani dan pantang menyerah. Kalau ada yang menjelek-jelekan nggak-papa, kita belajar, kita cari caranya yang baru,” kata Putri Santoso.

Dirinya pun bercita-cita untuk memberdayakan teman-teman disabilitas, khususnya tuna rungu untuk makin terlibat di usaha yang dimilikinya.
Walau praktiknya saat ini di Kopi Tuli seluruh kegiatan sudah dikelola oleh mereka yang tuna rungu, mulai dari meracik hingga melakukan segala sesuatu. Namun Putri bermimpi usaha ini bisa lebih besar dan semuanya dikelola oleh mereka yang punya keterbatasan.

“Saya mau memberdayakan teman-teman yang punya keterbatasan. Semoga Indonesia lebih inklusif,” katanya sembari menambahkan berharap bisa pula bekerja sama dengan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Putri juga teguh memegang prinsip, penyandang disabilitas memiliki kedudukan, hak dan kewajiban yang sama dengan masyarakat non disabilitas. Mereka juga sebagai bagian dari Warga Negara Indonesia.

Dalam berinteraksi sosial, Putri juga tidak ingin merasa minder atau risih dan cenderung mengabaikan perlakuan dan sikap yang tidak adil. Anggapan penyandang disabilitas identik dengan dengan orang yang sakit, yang lemah tak berdaya, dan tidak produktif, dibuang jauh-jauh olehnya.

Wanita kelahiran 28 tahun silam inipun sedikit bercerita jika sebelum mendirikan Kopi Tuli, Ia pernah di tolak oleh sejumlah perusahaan karena keterbatasan komunikasi yang di alaminya. Tidak hanya perusahaan, perempuan tangguh yang merupakan lulusan sarjana desain komunikasi visual, BINUS University itu pernah tidak di terima oleh 10 sekolah umum.

Kegagalan dalam mendapatkan pekerjaan yang ia lamar, tidak membuat Putri patah arang dalam hidupnya. Bahkan, kegagalannya itu justru menjadi inspirasi mendirikan warung kopi, Kopi Tuli.

Bersama dua sahabatnya sejak kecil yang juga tuli, M. Adhika Prakoso dan Erwin Syah Putra, Putri pun memulai usahanya, Kopi Tuli, pada Mei 2018. “Kopi Tuli pendiri dan karyawannya semua teman-teman tuli,” katanya.

Putri mengakui, dalam mulai usahanya ia berprinsip bahwa setiap manusia harus memiliki kesetaraan kesempatan dalam memperoleh pekerjaan. Hal inilah yang ia pegang dengan tiga tujuan didirikannya Kopi Tuli.

“Tujuan Kopi Tuli ada tiga yang pertama soal pendidikan untuk menjembatani komunikasi menggunakan bahasa isyarat. Kedua sosialisasi dan peningkatan kesadaran serta pemberdayaan teman-teman tuli serta ada ruang interaksi antara teman tuli dan dengar. Ketiga pemberdayaan dari teman-teman tuli sendiri,” ujar Putri.

Ia menceriterakan, sebelum virus Covid-19 merebak banyak sekali orang-orang yang berdatangan ketemu teman-teman tuli belajar bahasa isyarat belajar komunikasi di Kopi Tuli. “Selama pandemi kegiatan ini benar-benar turun drastis. Tapi kan tetap semangat, tetap terus produktif,” kata Putri.

Meskipun pandemi Covid-19 telah menjadi hambatan yang cukup signifikan bagi bisnisnya, Putri bersama rekan-rekannya tetap produktif dalam menjalani bisnisnya. Kreatifitas dalam membaca pangsa pasar di saat pandemi menjadikan bisnis KopinTuli tetap berjalan hingga saat ini.

“Kita tetap produktif, saat pandemi kita mulai jualan online per botol, jadi ada beberapa botol yang pertama botol 1 liter yang lebih kecil dan yang lebih kecil lagi. Kita juga berjualan melalui media sosial, kita berjualan secara live dari media sosial dan terus itu kita lakukan. Jadi jualan secara online dilakukan, secara offline juga dilakukan dan ini membuat usaha tetap bisa jalan,” tutur Putri.

Alhasil, Kopi Tuli yang berdiri sejak tahun 2018, kini telah memiliki beberapa cabang, di Depok, Jawa Barat dan di Duren Tiga, Jakarta Selatan. “Saya mau memberdayakan, memberikan kesetaraan kesempatan kepada teman-teman tuli yang banyak, saya mau punya usaha Kopi Tuli ini ada di macam-macam tempat, bisa buka banyak cabang dan semoga Indonesia lebih inklusif. Saya juga mau bekerjasama dengan pelaku-pelaku UMKM, kita mungkin bisa bekerjasama agar usaha lebih prospektif,” ungkap Putri.

Menurutnya, di masa pandemi seperti saat ini kesadaran tentang kesehatan lebih tinggi. Hal ini lantas memberikan inspirasi agar Kopi Tuli dapat membuat serta menyajikan makanan dan minuman yang lebih sehat. “Jamu contohnya, dan macam-macam, karena dari Corona ini orang-orang mulai sadar tentang kesehatan,” ujar Putri.

Dengan konsep kesetaraan kesempatan dan pemberdayaan teman tuli, para pendiri Kopi Tuli berupaya untuk memberikan ketersediaan lapangan kerja untuk teman Tuli. Kopi Tuli juga ingin meningkatkan interaksi antara orang-orang dengar dengan orang tuli agar bisa saling memahami. (Imd)

BERITA REKOMENDASI