Rahasia Bank Sampah Kota Malang Kantongi Rp 300 Juta Perbulan

Editor: Ivan Aditya

MALANG, KRJOGJA.com – Kota Malang Jawa Timur berhasil menghidupkan bank sampah hingga mampu berdampak pada 2 persen pengurangan sampah yang dihasilkan perhari. Bahkan omset bank sampah di Kota Malang saat ini mencapai Rp 300 juta perbulan dengan anggota yang mencapai lebih dari 30 ribu.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang, Wasto mengatakan pada 2010 pihaknya justru belajar tentang Bank Sampah ke Kabupaten Bantul penggagas Bank Sampah Bambang Suwerda. Setahun berselang, ilmu dari Bantul dimodifikasi di Kota Malang melalui sistem Bank Sampah Induk.

“Kami buat sistem induk dengan badan hukum koperasi, 17 Agustus 2011 kami launching dan sampai 2019 ini omsetnya sudah Rp 300 juta sebulan. Sistemnya induk Bank Sampah dengan unit-unit di tingkat RT-RW,” ungkapnya pada wartawan unit DPRD DIY ketika kunjungan ke Balaikota Malang, Kamis (31/10/2019).

Sistem induk tersebut ternyata menjadi rahasia majunya bank sampah di Kota Malang. Katalog harga sampah ditentukan secara terbuka yang membuat mafia-mafia sampah tak bisa leluasa memainkan harga seperti masa-masa sebelumnya.

“Kami punya 70 lebih klasifikasi sampah dan semua harga tertera jelas. Masyarakat pun jadi semangat untuk mengumpulkan dan menabung sampah karena secara harga diatur dengan jelas. Begitu juga pengepul tak bisa memainkan harga sesuka mereka,” sambung.

Di sisi lain, peran serta masyarakat melalui PKK juga menjadi faktor penting keberhasilan bank sampah terintegrasi di Kota Malang yang sudah menginjak tahun kedelapan. “Kami minta masyarakat berubah perilaku, melalui RW hingga RT. Kami gandeng ketua penggerak PKK, kalau lewat istri yang lebih berkuasa di rumah ternyata beda hasilnya,” tandas.

Kepala Bidang Kemitraan dan Kerjasama DLH Kota Malang yang juga penggagas bank sampah, Rahmat menambahkan di awal dahulu cukup sulit menggerakkan masyarakat karena belum terbentuknya kesadaran cinta lingkungan. Namun dengan stimulus Pemkot melalui kebijakan strategis, maka bank sampah bisa berjalan dan sekaligus membentuk kebiasaan baru masyarakat.

“Setiap tahun kami punya lomba Kampung Bersinar seperti lomba Adipura antar RW yang indikatornya harus punya bank sampah. Dari situ muncul kebanggaan warga dan unit-unit bank sampah juga jalan. Bukan lagi Rupiah jadi titik utama tapi kesadaran warga untuk lingkungan bersih dan kebanggaannya,” ungkapnya lagi.

Di tahun 2019 ini Rahmat menyebut omset bank sampah di Kota Malang mencapai angka Rp 300 juta. Padahal, tak semua unit di tingkat RT-RW murni menyetorkan sampahnya ke induk bank sampah koperasi yang diinisiasi Pemkot tersebut.

“Ada juga unit yang langsung ke pengepul, tidak masalah tapi masyarakat sudah tahu ada keterbukaan harga. Pengepul ikut kita juga harganya karena tak bisa lagi main-main. Terpenting kesadaran masyarakat untuk memilah dan memilih sampah pribadi sudah terbentuk,” pungkas dia. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI