Realisasi Investasi Pariwisata RI USD1,396 Juta

JAKARTA, KRJOGJA.com – Pertumbuhan pariwisata Indonesia yang mencapai 24 persen ini juga sejalan dengan pertumbuhan investasi di sektor pariwisata. Sebab hal ini membuka peluang bisnis yang besar bagi para investor, serta membuka lapangan kerja.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mencatat, investasi sektor pariwisata pada kurun waktu Januari hingga September 2017 terealisasi sebesar 1,396.40 juta dolar AS atau tumbuh 27.68 persen dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu. "Hingga September kita sudah mencapai 79,8 persen dari target yang ditetapkan sebesar 1,75 miliar dolar AS,” kata Arief Yahya. 

Dari jumlah tersebut, kata Menpar investasi dari Penanaman Modal Asing (PMA) adalah yang terbesar. Yakni mencapai 1.094.65 juta dolar AS. Investor PMA datang dari sejumlah negara, dimana Singapura menjadi yang terbesar disusul Tiongkok dan Jepang.

"Investasinya ada pada hotel berbintang, akomodasi jangka pendek lainnya, damn hotel melati. Dengan lokasi terbanyak di Bali, Kepulauan Riau, dan DKI Jakarta."

Sementara investasi dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar 301.75 juta dolar AS. Meski jumlahnya lebih sedikit, namun investasinya lebih variatif. Selain di hotel berbintang, tapi juga pada usaha taman bertema (theme park) serta kegiatan hiburan dan rekreasi. Lokasinya pun terbanyak di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Di tahun 2018, target investasi pariwisata meningkat menjadi 2 miliar dolar AS. Investasi menjadi salah satu program prioritas yang dijalankan pemerintah sehingga  Presiden Jokowi selalu mengingatkan agar investasi yang masuk ke Indonesia dapat merangkul semua sektor, termasuk pariwisata,” kata Menpar.

Menpar menambahkan guna mencapai target 17 juta wisatawan mancanegara di tahun 2018 mendatang, Kementerian Pariwisata telah menetapkan berbagai langkah dan persiapan. Branding Wonderful Indonesia yang telah melesat jauh akan dikonversi ke dalam upaya-upaya pemasaran pariwisata.

Salah satu kunci utama adalah dengan pemanfaatan digital. Perubahan gaya hidup yang semakin go digital membuat komunikasi lebih bersifat personal, mobile, dan interaktif. Sekitar 70 persen pencarian dan sharing data menggunakan cara digital.

Media digital bahkan dinilai empat kali lebih efektif dalam menyampaikan pesan daripada media konvesional. Revolusi digital tidak bisa dihindari. Secara alamiah akan mengubah dunia dan menciptakan model bisnis baru. Adapun tiga revolusi dalam bidang bisnis yang terpengaruh oleh perubahan gaya hidup digital antara lain komunikasi, transportasi, dan pariwisata.

“Para pelaku industri yang menggunakan cara konvensional akan sulit bersaing dengan mereka yang menggunakan platform digital,” kata Menpar Arief Yahya.

UNWTO pun dalam penelitiannya mengenai aktivitas wisatawan, diketahui sekitar 82 persen wisatawan lebih suka mencari langsung informasi mengenai suatu destinasi wisata menggunakan platform digital.

Sisanya 53 persen wisatawan menggunakan platform digital untuk mencari akomodasi, 47 persen untuk mengetahui transportasi di destinasi wisata, 36 persen digunakan untuk mengetahui rekomendasi restoran/ tempat makan, dan 40 persen menggunakan untuk mencari aktivitas wisata yang dilakukan di destinasi.

Untuk menghadapi tantangan ini,  industri perhotelan melalui PHRI meluncurkan produk digital baru dengan nama bookingina.com. “Platform ini mengumpulkan berbagai hotel dan restoran yang tergabung di bawah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk sama-sama menjual dan menerapkan sharing economy,” kata Menpar Arief Yahya. (*)

BERITA REKOMENDASI