Resto Jepang Konsep Makan Sepuasnya Bersembunyi di ‘Kampung Bule’

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Kampung Prawirotaman yang mendapat julukan sebagai Kampung Bule merasakan luar biasanya dampak pandemi yang menerjang dunia. Tidak adanya kunjungan wisatawan mancanegara, membuat kampung ini seakan mati suri, meski tetap berusaha menggeliat di tengah keterbatasan.

Jumat (07/05/2021) malam, Prawirotaman mendadak ramai dipenuhi mobil-mobil yang terparkir berderet di sepanjang jalan. Penyebabnya, sebuah resto masakan Jepang bernama Niku Japanese BBQ dibuka untuk kali pertama.

Menarik, resto yang dimiliki Sarah Onggowinarso dan rekannya, Harmawan Raharjo ini berani berspekulasi membuka gerai makanan all you can eat alias makan sepuasnya di kawasan Prawirotaman, yang kini sedang sepi-sepinya. Keduanya mengambil lokasi tersembunyi, di halaman belakang sebuah bangunan lawas yang memang terbilang unik karena terdapat beberapa kafe tematik di sana.

Dari depan, ruang makan tersebut seolah terlihat sempit. Namun ketika masuk, seolah kita akan menuju halaman belakang rumah yang luas, bersiap menyantap seluruh hidangan tersedia.

Sarah dan Harmawan mengaku baru tiga minggu terakhir mempersiapkan resto itu. Mereka membawa konsep dari gerai sebelumnya yang sudah buka di Surabaya sejak tiga tahun terakhir.

Keduanya sengaja memilih kawasan Prawirotaman yang selama ini identik dengan wisatawan mancanegara. Mereka ingin menghidupkan lebih terang Prawirotaman yang setahun terakhir terhantam pandemi.

“Sengaja di Prawirotaman karena di sini mayoritas kafe-kafe untuk bersantai dan ruang makan tematik. Kami bawa konsep all you can eat dengan harapan membawa datang lebih banyak konsumen lokal. Prawirotaman ini keren sekali lho, suasannya mirip ketika kita di Bali, jadi vibenya harus bisa dinikmati teman-teman lokal juga,” ungkap Sarah yang diamini Harmawan.

Secara konsep makanan, resto tersebut menawarkan karakter Japanese yang sudah disesuaikan dengan lidah masyarakat Indonesia. Pengunjung dapat makan sepuasnya dengan membayar antara Rp 85-95 ribu dan memanggang daging sapi slice berkualitas untuk waktu makan 1,5 jam.

“Memang konsep ini sedang booming sejak satu dua tahun ke belakang. Nah, kami padukan dengan lokasi menarik di Prawirotaman, karena di Jogja saat ini konsep makan all you can eat untuk grill lebih banyak di utara. Habis makan di sini, bisa jalan-jalan santai menikmati Prawirotaman, Kampung Bule,” sambung Harmawan.

Sarah dan Harmawan tampaknya sudah memikirkan bagaimana bersaing di belantara bisnis kuliner Yogyakarta yang dikenal keras. Betapa tidak, gerai kuliner di sini silih berganti buka dan tutup dalam waktu yang relatif cepat, bukan lagi hitungan tahun.

Karakter konsumen Yogyakarta yang pemilih dengan mempertimbangkan banyak hal sebelum membeli, jadi tantangan tersendiri yang harus ditaklukkan pebisnis kuliner. “Kami tidak ingin hanya lewat, tiga bulan tutup, jadi akan ada banyak hal-hal menarik yang ditawarkan kedepan. Mudah-mudahan bisa seperti di Surabaya, mendapat tempat di hati konsumen,” pungkas Harmawan. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI