Rumah Kayu Kini Jadi Idaman

Editor: Ivan Aditya

WARGA korban gempa Lombok dan sekitarnya menunggu-nunggu realisasi pembangunan rumah yang hancur. Mereka berharap rumah yang dijanjikan pemerintah bisa segera berdiri dan bisa berteduh lebih nyaman.

Saat ini, warga korban gempa berteduh di hunian sementara yang dibuatnya sendiri. Sebagian lagi ada yang masih tidur ditenda, terutama yang tidak memiliki pekarangan rumah.

Meski pemerintah telah menjanjikan akan membangunkan kembali rumah korban gempa yang hancur, namun banyak warga masih bertanya-tanya kapan janji tersebut bisa terealisasi dan bagaimana bentuk bangunannya.

Pemda setempat telah menginformasikan bahwa bentuk rumah yang diinginkan pemerintah harus memenuhi kriteria tahan gempa. Pemerintah sudah memberikan alternatif rumah Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha).

Rumah ini dianggap dapat diandalkan jika terjadi gempa cukup besar, yakni sampai 8 SR. Pendirian bangunan ini dilakukan dengan teknologi knockdown sehingga bisa berdiri dengan cepat.

Pemerintah pusat mengharapkan warga korban gempa, membangun kembali rumah dari dana bantuan Rp 50 juta tersebut dengan bangunan yang sudah teruji, seperti  Risha. Namun demikian pihak pemerintah tidak bisa memaksakannya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, Muhammad Rum mengakui tidak semua warga korban gempa setuju dengan model rumah Risha. Sebagian menginginkan kucuran dana Rp 50 juta tersebut diserahkan kepada warga untuk membangunkannya.

“Bagi pemerintah, ada aspek akuntabilitas. Dana harus dipertanggungjawabkan. Karena itu, ada proses yang harus ditempuh,” ujar Muhammad Rum.

Tokoh warga Desa Dopang, Kecamatan Gunungsari Lombok Barat, Muhibi mengungkapkan, saat gempa terjadi, banyak rumah kayu yang tidak rubuh. Dari kejadian tersebut, warga kemudian ingin kembali ke selera orang tua zaman dulu, yakni mendirikan rumah kayu. “Banyak warga yang mengingkan bangunan yang berdiri terbuat dari kayu,” ungkap Muhibi.

Saat ini pun, sambil menunggu dibangunkannya kembali rumah yang rusak oleh pemerintah, warga mulai membangun rumah mereka disamping bangunan utama dengan rumah kayu. Minimal sebagai rumah hunian sementara (Huntara).

Jika kemudian pemerintah membangunan kembali rumah yang hancur, banguan rumah kayu tidak perlu dibongkar. Bisa digunakan untuk keperluan hunian, baik untuk tempat kumpul keluarga atau untuk dapur.

Terkait huntara ini, pihaknya berharap banyak para donatur untuk membantu mendirikannya. Karena banyak warga yang belum mampu mendirikan huntara terlebih dahulu sebelum rumah tetap dibangunkan pemerintah. “Bentuknya dari kayu saja tidak apa-apa,” ujar Muhibi. (Jon)

BERITA REKOMENDASI