Rumuskan Peran Kebudayaan Jawa dalam Membentuk Karakter Bangsa

Editor: Ivan Aditya

SURABAYA, KRJOGJA.com – Saat ini nilai-nilai luhur dalam kebudayaan Jawa tidak luntur. Hanya saja dalam penerapannya cenderung mengalami pergeseran akibat derasnya arus perubahan dan globalisasi.

"Tata titi tentrem kerta raharja yang sering disampaikan dalang menjadi dimensi ideal secara nonfisik atau intangible. Sedang gemah ripah loh jinawi menjadi dimensi ideal fisik masyarakat Jawa. Dua dimensi tersebut sangat luar biasa yang saling mendukung," tutur Asisten Keistimewaan Setda DIY Didik Purwadi ketika menyampaikan inti paparan Gubernur DIY Sri Sultan HB X dalam pembukaan Kongres Kebudayaan Jawa (KKJ) II mengusung tema 'Mengarusutamakan Kebudayaan Jawa untuk Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Masyarakat' di Gedung Grahadi Surabaya Jawa Timur, Rabu (21/11/2018) malam.

Seperti disampaikan Didik, ketika idealisme tatanan Jawa bisa diwujudkan, kesejahteraan masyarakat dapat dipenuhi. Setidaknya ada dua frasa yang dapat mewujudkan kesejahteraan tersebut, yakni ekosistem kondusif dan kepemimpinan kuat. Ekosistem melalui semangat gotong royong menjadi transformasi nilai budaya.

"Budaya sebagai media rekonsiliasi. Kesejahteraan akan dicapai saat kepemimpinan kuat di semua tingkatan. Ajaran manunggaling kawula Gusti menjadi model kepemipinan ideal yang dipraktikkan ketokohan di masa silam seperti Ngarsa Dalem Sultan HB IX," sebutnya.

Sedang Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berharap tema yang diangkat dalam KKJ II ini dapat diaplikasikan secara konstektual. Seperti halnya budaya Jawa mampu mencegah dari tindakan korupsi dan lainnya.

"Kebudayaan itu juga bergerak. Tidak statis. Pertanyaannya bagaimana kontribusi kebudayaan Jawa saat ini? Apakah istilah tidak elok atau ngisin-isini masih dipakai? Ataukah sanksi sosial masih berguna untuk dibangun? Lalu kontribusi apa dari budaya Jawa untuk melawan hal-hal yang tidak sesuai? Semua harus dapat dirumuskan melalui KKJ II ini," tegas Ganjar.

Budaya Jawa dijelaskan Ganjar harus mampu menjadi nilai untuk membangun karakter generasi masa depan bangsa. Budaya Jawa hendaknya juga dapat memberikan kontribusi relasi sosial yang lebih baik untuk menghindari berbagai konflik di tengah masyarakat.

Sedang Sekretaris Daerah Jawa Timur Heru Cahyono mewakili Gubernur Jatim Soekarwo menuturkan Jawa memiliki banyak filosofi yang baik, seperti etika dan lainnya. Filosofi juga mulai luntur di tengah masyarakat dan harus kembali dibangun dan diunduh lagi.

"Permohonan maaf, ucapan terima kasih menjadi salah satu bentuk etika. Hal tersebut yang mulai luntur dan harus dibangun lagi," jelas Heru dalam talk show yang dipandu moderator Suko Widodo tersebut.

Sementara itu rangkaian KKJ II ini diikuti 300 peserta dari Jatim, Jateng dan DIY. Dibagi dalam enam komisi, yakni Kebudayaan Jawa di Tengah Tantangan Nasional dan Global, Kebudayaan Jawa sebagai Perajut Harmoni Sosial, Kebudayaan Jawa sebagai Spirit Kemajuan Ekonomi, Kebudayaan Jawa sebagai Sumber Ekosistem Kebudayaan, Kebudayaan Jawa sebagai Basis Sosial Politik dan Kepemimpinan serta Kebudayaan Jawa sebagai Landasan Sosio Spiritual. Sebelumnya, tiga daerah menghadirkan kesenian tradisional masing-masing, yakni Tari Maja Kirana dari Jawa Timur, Tari Menak Putri Rengganis Widaningsih dari DIY dan Klana Topeng Jawa Tengah. (Feb)

BERITA REKOMENDASI