Rusdi Kirana Siapkan Dokumen Pembatalan Pesanan Boeing

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Tragedi jatuhnya pesawat Boeing 737-Max 8 Lion Air di perairan Karawang (29/10/2018) memicu konflik bisnis antara LionMentari Airlines dan pabrikan Boeing Co. Bahkan, pesanan ratusan pesawat senilai USD22 miliar terancam batal.

"Boeing tidak melakukan prosedur dari MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System/sistem manuver pesawat Max-8 ) yang seharusnya, kok saya yang disalahin?" ujar pemilik maskapai Lion Air, Rusdi Kirana.

Rusdi pun menganggap sikap Boeing menyudutkan dirinya yang tengah dirundung masalah. "Apakah saya sebagai pihak yang sudah dalam kondisi yang sulit ini masih boleh diperlakukan seperti itu? Sedangkan saya customernya, sedangkan saya one of the biggest customernya," tuturnya.

Rencana pembatalan pesanan dari Boeing ini berawal dari pernyataan Boeing yang menanggapi laporan awal (preliminary report) Komite Nasional Keselamatan transportasi (KNKT) atas investigasi kasus jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 pada 29 Oktober lalu.

Dalam keterangan tertulis di laman situnya, Boeing menyatakan bahwa "penumpang yang terbang dengan Boeing 737 MAX ke ratusan destinasi di seluruh dunia setiap harinya, kami menjamin 737 MAX sama amannya dengan pesawat lain yang telah terbang selama ini." ungkapnya. (*)

BERITA REKOMENDASI