RUU Minuman Beralkohol Bisa Picu Pengangguran, Kok Bisa?

Ipung menyebutkan, industri minuman beralkohol menyerap banyak tenaga kerja. Mulai dari hulu ke hilir yang melibatkan ratusan ribu tenaga kerja. Artinya, jika RUU minol ini disahkan, maka berpotensi memperbanyak pengangguran akibat ambruknya industri minol yang tak bisa beroperasi.

Merujuk pada Pasal 6 draf RUU tersebut, maka setiap orang yang memproduksi, menjual (penjual), menyimpan, maupun mengonsumsi alkohol bisa terancam pidana.

“Setiap orang dilarang memasukkan, menyimpan, mengedarkan, dan/atau menjual Minuman Beralkohol golongan A, golongan B, golongan C, Minuman Beralkohol tradisional, dan Minuman Beralkohol campuran atau racikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” bunyi Pasal 6 draf RUU tersebut.

Ipang kemudian mempertanyakan kembali apa dasar dari pembahasan RUU minol tahun ini. Mengingat sebelumnya pada 2015 silam, DPR juga sempat membahas RUU ini namun tak ada kelanjutannya. Diketahui, alasan DPR waktu itu adalah untuk menekan angka kriminalitas yang dianggap bersumber dari konsumsi minuman beralkohol.

Menurut Ipung, cairan memabukkan yang dimaksud bukan murni alkohol, melainkan metanol. Dimana metanol ini memiliki sifat yang mirip dengan alkohol, namun tidak untuk dikonsumsi manusia. Dan tentunya lebih mudah dijangkau, baik dari segi harga maupun ketersediaannya.

“Kalau yang disebutkan itu methanol, ya buatlah Undang-Undang anti methanol,” kata Ipung.(*)

BERITA REKOMENDASI