Sabang Kota Pertama Mengalami Sehari Tanpa Bayangan

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan terkait fenomena hari tanpa bayangan atau kulminasi. Fenomena ini terjadi ketika matahari berada tepat di posisi tertinggi langit.

Ketika matahari berada tepat di atas kepala, bayangan benda yang berdiri tegak seolah-olah menghilang. Padahal sebenarnya, bayangan hanya bertumpu pada benda tersebut.

Salah satu penyebab hilangnya bayangan lantaran kemiringan sumbu rotasi Bumi terhadap bidang ekliptika. Akibatnya, matahari terlihat seperti bergerak dari timur ke utara. Fenomena ini dikenal juga dengan sebutan gerak semu matahari.

Posisi Indonesia yang berada di garis khatulistiwa membuat fenomena kulminasi utama terjadi dua kali dalam kurun waktu setahun. Melalui keterangan resmi, waktu terjadinya kulminasi pun tak jauh dari saat matahari tepat melintasi khatulistiwa. Pontianak, kota yang dilintasi oleh garis khatulistiwa, setiap tahunnya akan menghadapi fenomena kulminasi.

Pada Maret lalu, fenomena hari tanpa bayangan telah terjadi di Pontianak. Posisi matahari berada di posisi tertinggi di Indonesia sejak September 2018.

Sementara itu kota Sabang yang berada di paling barat Indonesia menjadi area pertama yang mengalami kulminasi utama. Sedangkan kota Seba di Nusa Tenggara Timur akan mengalami kulminasi pada 21 Oktober 2019. (*)

BERITA REKOMENDASI