Sajinah dan Harapan dari Pertemuan Tahunan IMF – Bank Dunia

SAJINAH (63) melempar senyum setiap kali ada pengunjung yang berhenti di stannya yang menjual batik prada. Ia  mengisi salah satu tempat pamer di luar ruangan acara Diskusi Publik ‘Memperkuat Sinergi dalam Akselerasi  Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas’ yang berlangsung di Ruang Kasultanan Ballroom, Royal Ambarrukmo Hotel, Rabu 29 Agustus 2018. 

Diskusi tersebut merupakan merupakan bagian dari rangkaian acara Rapat Koordinasi antara Bank Indonesia, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Otoritas Jasa Keuangan (Rakorpusda) yang diselenggarakan bersama oleh Bank Indonesia dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Hadir sebagai narasumber diantaranya Gubernur BI Perry Warjiyo, Menteri Koordinator Bidang Maritim Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo.

“Sering diundang acara seperti ini,” kata Sajinah yang didampingi putrinya, Nina Victoria (18). Pemilik usaha Batik Prada Sajinah ini mengungkapkan, ia mulai menggeluti batik sejak gempa Jogja di tahun 2006. Batik prada sendiri adalah batik tulis atau cap atau kombinasi keduanya yang sebagian motifnya diberi sentuhan warna emas atau prada.

Sejak menggeluti usaha batik, Sajinah mendapatkan dampingan dari Bank Indonesia. Salah satu dukungan yang diberikan ia diajak membuka stand di pameran, seminar, diskusi dan acara-acara lainnya yang ada kaitannya dengan Meeting Incentive Convention and Exhibition (MICE).

Menurut Sajinah, berjualan di acara semacam seminar atau pertemuan di hotel menjadi promosi yang efektif. Ia banyak menerima pembeli di rumah setelah acara selesai.

“Kami kadang kedatangan rombongan satu bis peserta sebuah seminar, mereka datang langsung ke tempat kami. Ada juga yang datang perorangan karena pernah lihat kami jualan di acara-acara seperti ini,” kata Sajinah. 

Ekonom,Prof Dr Edy Suandi Hamid mengatakan bahwa potensi MICE bagi pariwisata di Indonesia sangat besar. Acara seperti ‘2018 International Monetary Fund – World Bank Group (IMF – WBG) Annual Meetings’ atau Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia yang akan berlangsung di Bali 8 – 14 Oktober 2018 merupakan kesempatan besar untuk mengenalkan Indonesia atau daerah-daerah lain,  bukan hanya Bali sebagai tuan rumah. 

Pantai Jimbaran siap menyambut peserta Pertemuan Tahunan IMF – Bank Dunia (Agung Purwandono)

“Kesempatan besar untuk mengenalkan potensi daerah-daerah di Indonesia. Namun, harus jelas roadmap paket-paket wisatanya karena yang dicari oleh peserta adalah itu,” kata Edy Suandi Hamid yang juga salah satu Wakil Ketua Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI).
 
Pertemuan Tahunan IMF – Bank Dunia adalah pertemuan terbesar di dunia bidang keuangan dan ekonomi. Ada belasan ribu tamu asing dari 189 negara anggota yang akan melihat Indonesia dari Bali. “Anggaran yang dikeluarkan ratusan milyar rupiah, tapi ini bisa jadi ajang promosi daerah-daerah di Indonesia,” kata Edy yang juga hadir di acara Diskusi Publik ‘Memperkuat Sinergi dalam Akselerasi Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas’. 

Indonesia, menurut Edy memiliki daya tarik wisata yang sangat lengkap. Ia yang sudah keliling dunia merasa belum menemukan sebuah negara  seperti Indonesia yang sangat lengkap. “Wisata pantai ada, gunung ada, heritage banyak, yang penting bagaimana cara menjualnya,” ujar Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta ini. 

Ia menegaskan MICE merupakan sarana promosi efektif karena mengundang langsung wisatawan datang. Ia mencontohkan setahun lalu saat menjadi Organizing Committe 42nd Conference of The Federation of ASEAN Economic Associations (FAEA) Indonesia menjadi tuan rumah bahkan bukan karena mengajukan diri. 

“Saya ingat setahun sebelum penyelenggaraan, saat pertemuan di Thailand negara-negara anggota meminta Yogyakarta, Indonesia menjadi tuan rumah. Karena mereka tertarik dengan wisata di Yogyakarta,” kata Edy Suandi Hamid. 

Hanya menurut Edy Suandi Hamid, setiap penyelenggaraan MICE di Indonesia harus jelas road mapnya. Jangan sampai peserta dari luar negeri malah bingung mau kemana ketika ingin berwisata usai mengikuti acara.

“Acara seperti Asian Games seharusnya juga bisa jadi ajang promosi, bukan hanya Jakarta Palembang sebagai tempat penyelenggaraan tapi daerah lain misalnya dalam waktu 3 hari dua malam bisa ke daerah mana saja,” ujarnya. 

Ketua Association Of The Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) Daerah Istimewa Yogyakarta Udi Sudiyanto mengatakan untuk meningkatkan laju wisatawan secara cepat, maka MICE menjadi pilihan. “Kami menyebutnya insentive group. Ketika mereka datang untuk seminar, diskusi dan sebagainya setelah itu ikut paket tour, multiplier effectnya lebih bagus,” katanya ditemui usai mengikuti acara diskusi publik. 

Menurut Udi terkait penyelenggaraan Pertemuan Tahunan IMF – Bank Dunia di Bali, Oktober mendatang, pihaknya sudah dihubungi oleh pihak penyelenggara. Asita DIY bersama Asita daerah lain punya peran untuk memperkenalkan dan menyiapkan diri bagi peserta yang ingin menikmati destinasi di luar Bali. 

Setidaknya ada 6 destinasi di Indonesia di luar Bali yang ditawarkan untuk peserta Pertemuan Tahunan IMF – Bank Dunia yaitu Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Tana Toraja, Danau Toba, Banyuwangi, dan Candi Borobudur. 

“Di luar Candi Borobudur, kamu juga menawarkan destinasi di DIY Jateng yang mungkin belum dikenal seperti hiking, tebing breksi, puncak Becici dimana mantan Presiden Amerika Serikat Obama pernah kesana. Intinya kita tawarkan destinasi penyangga di dekat obyek wisata utama,” kata Udi Sudiyanto. 

Dampak MICE Bisa Langsung Dirasakan

Menteri Pariwisata Republik Indonesia Arief Yahya kepada Krjogja.com usai mengikuti Diskusi Publik ‘Memperkuat Sinergi dalam Akselerasi Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas’ di Royal Ambarrukmo Hotel Yogyakarta mengatakan bahwa pihaknya sangat siap menghadapi Pertemuan Tahunan IMF – Bank Dunia. Event MICE ini menjadi sarana efektif untuk melakukan promosi pariwisata sekaligus mendorong ekonomi. 

Diskusi publik pengembangan destinasi pariwisata (Dok. Krjogja.com. 

Pertemuan Tahunan IMF – Bank Dunia sebagai sebuah agenda MICE ini manfaatnya akan dirasakan langsung oleh negara penyelenggara. Apalagi yang datang adalah para petinggi dari lembaga keuangan dari seluruh dunia. Sehingga pertemuan  keuangan terbesar yang pernah dilaksanakan di Indonesia ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. 

“Kami sudah siapkan 7 destinasi termasuk Bali untuk menyambut peserta,” ujar Arief Yahya. Karena, peserta adalah petinggi atau eksekutif lembaga keuangan, pengeluaran mereka bisa mencapai 5.000 dollar Amerika selama acara. 

Padahal diperkirakan peserta yang datang dalam acara tahunan IMF – Bank Dunia itu sekitar 15.000 – 20.000. Sehingga dikatakan Arief Yahya, dampak ekonominya sangat jelas bisa dirasakan.  Data dari International Conggress and Convention  Association (ICCA) menunjukan pengeluaran wisatawan MICE bisa tujuh kali lipat dari wisatawan biasa. 

Menurut Arief Yahya, sektor pariwisata menjadi penyumbang tenaga kerja yang sangat banyak, proyeksinya mencapai 13 juta.  Selama tahun 2017, sektor pariwisata mengalami pertumbuhan sangat bagus hingga 22 persen dan menjadi  20 top pertumbuhan pariwisata paling ceoat di dunia.

Tahun 2018 ini diharapkan target  sebanyak 17 juta wisman bisa tercapai, sehingga mendapatkan devisa sebesar 17 milyar dollar Amerika.

Tahun 2019 proyeksi devisa dari sektor pariwisata mencapai 20 milyar dollar Amerika. “Itu mengapa kami fokus membangun sektor pariwisata. Seperti yang sudah ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo melalui program 10 Bali baru. Tujuannya sektor pariwisata berkembang menopang perekonomian di Indonesia,” kata Arief Yahya.

Hal senada diungkapkan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di lokasi yang sama saat menjadi narasumber. Menurutnya saat ini pariwisata di Indonesia menjadi penyumbang devisa terbesar ketiga, setelah batu bara dan kelapa sawit. "Dua kata kunci dari pelaksanaan Rakorpusda, yakni sinergi dan akselerasi," ujarnya. 

Langkah-langkah strategis yang dirumuskan merupakan hasil dari sinergi antara Bank Indonesia, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Otoritas Jasa Keuangan yang diharapkan dapat mengakselerasi pengembangan destinasi pariwisata melalui peningkatan akses, atraksi, dan amenitas serta sinergi dalam melakukan promosi dan mendorong pelaku usaha.

Menteri Koordinator Kemaritiman yang juga Ketua Panitia Nasional Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, kedatangan delegasi dari berbagai negara diibaratkan dunia tengah melihat Indonesia. Momentum itulah yang ditunggu untuk mendorong sektor pariwisata di Indonesia tumbuh. 

“Sektor pariwisata dapat menjadi quick win untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menghasilkan devisa negara dan menciptakan lapangan kerja. Melalui perbaikan fasilitas dan pengelolaan pariwisata secara terpadu, diharapkan daya saing pariwisata akan meningkat,” katanya di depan peserta Diskusi Publik ‘Memperkuat Sinergi dalam Akselerasi Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas’ yang berlangsung di Royal Ambarukmo Hotel Yogyakarta. 

Di luar ruangan seminar tersebut, Sajinah berharap, begitu acara selesai peserta akan datang membeli dagangannya. Kalaupun tidak ada yang membeli, ia punya kesempatan untuk membagi kartu nama usahanya, Batik Prada Sajinah yang beralamat di Brajan, RT 07 Wonokromo, Pleret Bantul, Yogyakarta.

Sebagian pembeli batiknya selama ini adalah orang-orang yang datang ke rumahnya berbekal alamat dan nomor handphone di kartu namanya. (Agung Purwandono)

 

BERITA REKOMENDASI