Sampah Plastik di Borobudur hingga Labuan Bajo Perlu Ditangani Serius

Editor: Ary B Prass

YOGYA, KRJOGJA.com – Kawasan destinasi wisata prioritas Indonesia ditetapkan pemerintah mulai dari Borobudur, Mandalika, Toba, Likupang dan Labuan Bajo. Destinasi-destinasi itu menyedot banyak wisatawan untuk datang menikmati keindahan alam.

Namun begitu, persoalan sampah menjadi isu yang muncul kemudian. Jumlah wisatawan yang hadir ternyata berdampak pula pada jumlah sampah yang dihasilkan destinasi-destinasi wisata tersebut.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia bersama dengan Danone-AQUA menaruh perhatian dengan menyelenggarakan Webinar yang bertajuk Membangun Destinasti Wisata Super Prioritas yang Berkelanjutan Melalui Pengurangan Sampah Berwawasan Lingkungan. Acara tersebut membahas banyak hal terkait upaya pengelolaan sampah dengan menghadirkan perwakilan berbagai elemen pemangku kepentingan seperti perwakilan Pemerintah Pusat dan Daerah, Akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat, pihak Swasta, Asosiasi terkait, serta pegiat lingkungan.

Alue Dohong, Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan, destinasi wisata di Indonesia sebagian besar tersebar di daerah kepulauan sehingga dibutuhkan upaya yang lebih untuk membangun ekosistem dan infrastruktur pengelolaan sampah. Masih rendahnya program dan infrastruktur pengelolaan sampah di kawasan wisata ini dapat berpotensi berimplikasi terhadap meningkatnya emisi karbon di lingkungan yang berkontribusi terhadap isu pemanasan global.

“Sampah menjadi salah satu sumber yang menyebabkan kondisi lingkungan menjadi menurun kualitasnya, bukan hanya secara estetika, tetapi lebih penting lagi, karena sampah merupakan salah satu sektor sumber emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang berbahaya bagi kerusakan atmosfer. Hal ini akan memberikan dampak buruk pada kehidupan masyarakat,” ungkapnya dalam webinar tersebut.

Sejalan dengan tema Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional tahun 2022 yaitu Kelola Sampah, Turunkan Emisi, Bangun Proklim, Kawasan Wisata, pemerintah berharap hal tersebut menggugah semangat berbagai pihak untuk terlibat aktif dalam pengelolaan sampah. Pemerintah baik Pusat dan Daerah, akademisi, aktivis, komunitas, dunia usaha, asosiasi profesional dan bahkan individual harus ikut ambil bagian.

“Industri daur ulang misalnya, dapat berperan besar dalam proses pengurangan sampah di kawasan wisata. Sampah dapat dikumpulkan lalu didaur ulang menjadi produk yang lebih bermanfaat. Bank Sampah dan pengepul sampah adalah ujung tombak dalam pengumpulan sampah, selain sebagai sarana pengumpulan sampah juga sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampahnya,” lanjut Alue.

Rosa Vivien Ratnawati, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menambahkan perlu adanya keseimbangan antara sosial budaya, ekonomi dan lingkungan, dengan salah satu terpenting aspek pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Hal itu menurut dia dapat menjadi pendorong menciptakan alam bersih, indah dan nyaman sebagai modal industri pariwisata Indonesia.

“KLHK juga melakukan aksi nyata secara masif melalui komunikasi informasi dan edukasi kepada seluruh elemen masyarakat untuk melakukan pilah sampah di sumber, gerakan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, pendampingan dan peningkatan kapasitas bagi pemerintah daerah serta bermitra dengan berbagai pihak,” tandas dia.

BERITA REKOMENDASI