Sapma PP Siap Berdayakan Pemulung Olah Sampah Jadi Batako

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Satuan Siswa, Pelajar dan Mahasiswa (Sapma) Pemuda Pancasila (PP) DIY melakukan aksi sosial dengan membagikan nasi kotak bagi para pemulung di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Kamis (02/01/2020). Dalam kesempatan ini organisasi kemasyarakatan (ormas) tersebut juga menyatakan komitmennya untuk turut memberdayakan para pemulung di TPST Piyungan, salah satunya dengan program pelatihan pengolahan sampah menjadi batako.

Ditemui di lokasi kegiatan, Ketua Sapma PP DIY Qholib Ginanjar SSos mengatakan dalam aksi sosial ini setidaknya dibagikan sebanyak 320 nasi kotak untuk para pemulung TPST Piyungan. Dalam aksinya ini Sapma PP juga menggandeng WPS Inc.

"Kegiatan ini merupakan aksi sosial yang rutin kami lakukan setiap bulan. Kami akan terus melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial seperti ini dengan menyasar warga yang membutuhkan," kata Qholib Ginanjar.

Qholib Ginanjar mengatakan, pemulung memiliki peran yang penting di TPST Piyungan. Melalui mereka, ratusan bahkan ribuan kubik sampah hampir dari seluruh wilayah DIY yang masuk setiap harinya di tempat ini dapat berkurang sehingga tak terus menumpuk menjadi gunung.

Tak adanya pengolahan sampah di TPST Piyungan juga menggerakan ormas ini untuk memberdayakan para pemulung. Melalui para anggotanya Sapma PP DIY tengah berusaha berinovasi untuk memanfaatkan limbah sampah yang ada untuk diolah kembali menjadi batako.

"Anggota kami banyak dari perguruan tinggi, dari merekalah akan coba didorong untuk berinovasi salah satunya mengolah sampah menjadi batako. Tak lama lagi akan kami programkan untuk segera dilaksanakan," tegasnya.

Pemberdayaan para pemulung ini tak hanya sebatas hingga produksi saja. Qholib Ginanjar juga berjanji akan membatu memasarkan produk-produk yang dihasilkan tersebut dengan tujuan agar dapat mengangkat perekonomian pemulung-pemulung di tempat pembuangan sampah Piyungan.

Ketua Paguyuban Mardiko, Maryanto mengatakan sebanyak 500 orang pemulung menggantungkan nasibnya dari sampah-sampah yang dibuang di TPST Piyungan. Selama ini para pemulung yang tergabung dalam Paguyuban Mardiko hanya sebatas memilah sampah dan mengumpulkan lalu menjualnya kepada pengepul.

"Jika ada pelatihan pengolahan sampah tentunya kami sangat bersyukur. Dengan meningkatnya nilai guna sampah menjadi barang produksi tentunya juga akan menyejahterakan pemulung-pemulung di sini," katanya. (*)

BERITA REKOMENDASI