Sekjen Kemenperin: Indonesia Harus Menjadi Raja Industri Halal Dunia

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Ekonomi dan keuangan syariah mengalami perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir, baik nasional maupun global. Compound Annual Growth Rate (CAGR) memproyeksi, industri halal akan meningkat mencapai 6,2% hingga tahun 2024. Sedangkan dalam lingkup ekonomi syariah global, berdasarkan The Global Islamic Economy Indicator (GIEI) 2020/2021, Indonesia menduduki posisi ke-4, di bawah Malaysia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Kementerian Perindustrian terus mendorong perkembangan industri halal di tanah air agar Indonesia bisa menjadi raja industri halal. Hal ini dikarenakan, dengan jumlah umat muslim lebih dari 200 juta jiwa, Indonesia seharusnya menjadi pasar sekaligus produsen terbesar untuk produk halal.

“Dari sektor perindustrian sebenarnya kita beruntung Pak Agus Gumiwang begitu dapat penugasan dari Wapres, kita langsung fight, khususnya tadi saya mulai adalah bikin pusat pemberdayaan usaha selevel eselon dua. Jadi setingkat direktur, artinya ini level tinggi. Jadi, untuk mengembangkan indusri halal, nanti kita akan godok disini,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Dody Widodo dalam acara dialog virtual Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertajuk “Indonesia Bidik Raja Industri Halal” pada Senin (11/10/2021).

Dody menjelaskan, bicara sebuah produk industri halal, produk hilir, tentunya harus ada bahan bakunya. Kemudian, bahan bakunya itu halal atau tidak.

“Lalu apakah teknologinya mumpuni untuk penelusuran apakah produk itu halal atau tidak. SDM juga perlu diperhatikan. Apakah SDM di industri halal itu benar-benar peduli dengan kehalalan produknya atau tidak. Kemudian juga kawasan industrinya juga harus diperhatikan kehalalannya,” kata Dody.

Kementerian Perindustrian telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian mengenai Kawasan Industri Halal dan Pusat Industri Halal. Dua aturan ini mendukung ekosistem ekonomi syariah.

Kementerian Perindustrian juga akan membuat roadmap industri halal yang selaras dengan aturan tersebut. “Karena kalau kita bicara produk halal, tentunya sudah menjadi jaminan produk tersebut aman,” tegas Dody.

Ditambahkannya, saat ini anak-anak muda, sebagian besar sudah menjadikan industri halal sebagai sebuah trend baru. Industri halal bukan lagi dianggap milik agama tertentu. Hal ini terjadi di seluruh dunia, dan pangsa pasarnya sangat besar.

State of the Global Islamic Economy Report mendefinisikan “Islamic Economy” sebagai kegiatan ekonomi yang menyentuh banyak sektor. Meskipun terpengaruh oleh pandemi Covid-19, sektor ekonomi halal akan terus tumbuh hingga mencapai $2,4 triliun pada tahun 2024.

Untuk makanan halal, konsumsi muslim dunia mencapai $1,17 triliun pada tahun 2019. Diprediksi $1,38 triliun pada tahun 2024, dengan tingkat CAGR 3,5%.

Untuk industri kosmetik halal, konsumsi muslim dunia mencapai $66 miliar pada 2019. Diprediksi $76 miliar pada 2024, dengan tingkat CAGR 2,9%.

Sedangkan untuk industri konsumen farmasi dunia, konsumsi muslim dunia mencapai $94 miliar pada 2019. Diprediksi $105 miliar pada 2024, dengan tingkat CAGR 2,3%.

“Untuk itu, Kementerian Perindustrian akan terus menjaga dan mendorong ekosistem industri halal. Dan Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim yang besar harus dapat menangkap potensi ini. Indonesia harus menjadi motor di seluruh dunia menjadi raja di industri halal,” tegas Dody. (Imd)

BERITA REKOMENDASI