SNI Uji Halal Pangan/Pakan Mendesak Ditetapkan

Wahyu menjelaskan lebih lanjut, maka terkait laboratorium halal tersebut, saat ini beberapa laboratorium pemerintah, BUMN dan swasta memberikan layanan uji bidang biologi, baik laboratorium mikrobiologi maupun biologi molekuler. Uji deteksi deoxyribonucleic acid (DNA) porcine (babi) secara Polymerase Chain Reaction atau disingkat dengan PCR merupakan pendukung proses sertifikasi halal.

Namun demikian, saat ini uji metode tersebut sangat beragam dari gen target, primer, hingga kesepakatan nilai Cycle Threshold (CT). Perbedaan hal tersebut dapat menimbulkan kesalahan yang akan berdampak pada konsumen, industri yang akan menimbulkan kerugian ekonomi, sosial dan agama, serta pengambil keputusan kebijakan.

“Untuk itulah, dibutuhkan metode yang terstandar untuk meminimalisir false positive ataupun false negative yang dapat berdampak pada sertifikasi halal,” jelasnya.

Sebagai contoh, RSNI ISO/TS 20224-3:2020. Dokumen ini menetapkan metode real-time polymerase chain reaction (real-time PCR) untuk deteksi kualitatif DNA spesifik babi yang berasal dari pangan dan pakan. Hal ini membutuhkan ekstraksi DNA yang dapat diamplifikasi PCR dalam jumlah yang memadai dari matriks yang relevan dan dapat diterapkan untuk mendeteksi bahan babi/derivate dari babi (Sus scrofa domesticus) dan babi hutan (Sus scrofa).

 

BERITA REKOMENDASI