SNI Uji Halal Pangan/Pakan Mendesak Ditetapkan

“Amplifikasi adalah suatu proses yang dapat menggandakan atau mereplikasi suatu DNA yang semulanya sedikit sekali, bisa menjadi banyak atau berlipat ganda hingga ribuan bahkan jutaan kali. Uji PCR ini memiliki LOD 95% lebih dan telah divalidasi oleh ISO dengan pengujian di beberapa laboratorium di berbagai negara dan terbukti memiliki spesifitas, sensitivitas, robustness dan unsur lain yang memang layak untuk menjadi standar dalam pengujian,” terang Wahyu.

 

 

Dengan ditetapkannya SNI, terdapat acuan yang akurat untuk menentukan apakah terkandung babi pada pangan/pakan atau tidak.

 

 

RSNI  yang sedang dijajakpendapatkan ini yakni :

 

1. RSNI ISO/TS 20224-3:2020 Analisis biomarker molekuler – Deteksi bahan turunan hewan pada bahan pangan dan bahan pakan menggunakan real – time PCR – Bagian 3: Metode deteksi DNA babi.

 

2. RSNI ISO 16577:2016 Analisis biomarker molekuler — Istilah dan definisi (ISO 16577:2016, IDT, Eng)

 

3. RSNI ISO 20813:2019 Analisis biomarker molekuler — Metode analisis untuk deteksi dan identifikasi spesies hewan pada pangan dan produk pangan (metode berbasis asam nukleat) — Persyaratan umum dan definisi.

 

4. RSNI ISO 21571:2005 Bahan pangan — Metode analisis untuk deteksi organisme hasil rekayasa genetika dan produk turunannya — Ekstraksi asam nukleat.

 

5. RSNI ISO 24276:2006 Bahan pangan — Metode analisis untuk deteksi organisme hasil rekayasa genetika dan produk turunannya — Persyaratan umum dan definisi; serta

 

6. RSNI ISO 20395:2019 Bioteknologi — Persyaratan untuk evaluasi kinerja metode kuantifikasi untuk sekuens target asam nukleat — qPCR dan dPCR.

 

 

RSNI ini merupakan adopsi identik ISO. “Keenam RSNI ini adalah adopsi identik dengan standar internasional, yakni ISO yang dirumuskan melalui jalur fast track, yang artinya cukup mendesak untuk ditetapkan,” ungkap Wahyu.

 

 

Maka, sesuai Peraturan BSN Nomor 3 Tahun 2018 tentang Pedoman Pengembangan SNI, perkiraan waktu perumusan SNI untuk keperluan mendesak adalah 4 bulan dengan waktu jajak pendapat selama 20 hari kalender. Oleh karenanya, dalam masa jajak pendapat, masyarakat bisa menyampaikan tanggapan terhadap 6 RSNI melalui sispk.bsn.go.id sampai dengan tanggal 6 Maret 2021.

 

 

Sementara itu, terkait dengan metode uji halal, selain 6 RSNI tersebut, BSN juga telah menetapkan SNI 8965:2021 Metode deteksi dan kuantifikasi etanol pada produk minuman.

 

 

SNI ini meliputi istilah dan definisi, prinsip deteksi, dan kuantifikasi etanol dalam produk minuman, metode uji, serta keberterimaan hasil perhitungan. Adapun, produk minuman yang dimaksud dalam standar ini adalah produk minuman beralkohol dan produk minuman (ringan) tidak beralkohol termasuk minuman yang mengandung susu.

Dengan prinsip simpler, faster, dan better, Wahyu berharap perumusan SNI ini dapat mendukung standardisasi dan penilaian kesesuaian lingkup halal dan penanganan Covid-19.(ati)

 

 

 

 

 

BERITA REKOMENDASI