Soal Penerimaan Karyawaan, PLN Mengakomodasi Hak Disabilitas

Editor: KRjogja/Gus

JAKARTA, KRJOGJA.com – PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengakomodasi hak-hak penyandang disabilitas (berkebutuhan khusus) dalam proses penerimaan karyawan. BUMN ini juga memberlakukan prosedur sama, antara calon pegawai (karyawan) biasa dengan calon pegawai disabilitas.

"Sesuai peraturan dalam bentuk SK Direksi tentang Rekrutmen, kepada calon pegawai disabilitas diberikan sejumlah kemudahan, yaitu dalam operasional pelaksanaan ujian (test), mereka boleh didampingi dan disiapkan pendamping khusus dari pihak PLN selaku penguji, apabila diperlukan," kata
Executive Vice President Talent Development PLN, Karyawan Aji di Jakarta, Minggu (8/12/2019).

Demikian juga, lanjutnya dalam pernyataannnya, untuk tes kesehatan, ujian dilakukan dengan mengakomodasi kondisi disabilitasnya. Untuk tahun 2019 ini, ujar Aji, ada tiga penyandang disabilitas yang sedang mengikuti pelatihan (training) sambil bekerja (on the job training) yang rata-rata memiliki kemampuan bekerja yang bagus kinerjanya, baik dalam hal soft competency maupun hard competency.

"Mereka itu adalah  Maharezta Putra Perkasa di UP3 Klaten, Pelayanan Pelanggan, Rendra Aji Saputra di UIW Riau dan Kepri, Remunerasi dan Benefit, serta Willy Hendrawan di bidang Recruitment and Onboarding Development, Divisi Talenta Development," kata Aji. Penyandang disabilitas, imbuhnya, memiliki hak yang sama dengan orang awam pada umumnya, termasuk dalam pekerjaan dan kewirausahaan (UU No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas).

Demikian juga bagi calon pegawai negeri sipil (CPNS) pemerintah melalui Badan Kepegawaian Negara (BKN) melalui pengumumannya Nomor. 01/PANPEL.BKN/CPNS/XI/2019 tentang seleksi calon pegawai negeri sipil Badan Kepegawaian Negara Tahun Anggaran 2019. Mengenai kriteria pelamar, salah satunya dicantumkan tentang persyaratan pelamar disabilitas.

Disabilitas yang diperbolehkan adalah yang mengalami keterbatasan fisik, kelainan, kerusakan pada fungsi gerak yang diakibatkan oleh kecelakaan atau pembawaan sejak lahir (bukan disabilitas intelektual, mental, atau sensorik), dengan ketentuan mampu melakukan tugas seperti menganalisa, mengetik, menyampaikan buah pikiran, dan berdiskusi. Contohnya amputasi, celebral palsy (kelainan kongenital pada gerakan, otot, atau postur) dan orang kecil. (Ful)

 

 

 

 

PLN

BERITA REKOMENDASI