Sultan Pidato Kebangsaan di Madura, Sampaikan Pertanyaan Ini

MADURA, KRJOGJA.com – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubawono X menyampaikan Pidato Kebangsaan di Gedung Pertemuan Kampus Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Bangkalan, Rabu (12/12/2018). Sultan menyampaikan pidato bertajuk ‘Penguatan Nilai-nilai Kebangsaan Guna Merajut Keindonesiaan’.

Sri Sultan HB X yang datang atas undangan UTM mengawali pidatonya dengan pertanyaan yang akhir-akhir ini sering muncul di masyarakat. Pertanyaan tersebut yaitu benarkah ‘Semangat Kebangsaan’ sudah mati, atau setidaknya kurang relevan lagi?

Sultan juga mempertanyakan adakah menguatnya ‘Politik Identitas’ berbasis agama yang sering muncul secara laten mengimpikan ‘Negara Islam’, atau setidaknya semangat menghidupkan kembali ‘Piagam Djakarta’, berdampak terhadap menyurutnya ‘Semangat Kebangsaan’ sekarang ini?

Sultan menyampaikan hal tersebut dihadapan civitas akademika UTM serta tokoh masyarakat di Madura dan Jawa Timur. Acara ini terselenggara atas kerja sama Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dengan Forum Intelektual 45 Jawa Timur. Selain Sri Sultan, turut hadir dalam acara tokoh Madura Prof Dr Mahfud MD.

Sultan menjawab sendiri pertanyaan yang ia sampaikan, dimana perlunya setiap elemen bangsa mengambil peran strategis untuk membangun ‘Semangat Kebangsaan yang Mengindonesia’ dengan menegasikan semua kepentingan sempit atas Suku, Agama, Ras dan AntarGolongan (SARA). Diharapkan peran kaum intelektual untuk melakukan transformasi ide-ide kebangsaan dengan metoda yang mudah dicerna generasi muda.

Sri Sultan mencontohkan fenomena yang terjadi di negara lain. Di Amerika Serikat, misalnya, jiwa Nasionalisme ditanamkan sejak dini pada jenjang pendidikan pre-school. Jepang juga sukses mengembangkan ilmu pengetahuan, industri dan teknologi Barat.

Kemajuan Korea Selatan berakarkan ajaran Konfusius menempatkan penghargaan terhadap pendidikan. Revitalisasi terhadap budaya sendiri adalah basis ketahanan budaya bangsa Jepang dan Korea terhadap terpaan gelombang budaya global.

Terbukti, setiap negara maju pun tetap membina Jiwa Nasionalisme agar tidak luntur. Itulah alasan mengapa bangsa Indonesia harus terpanggil dan tergerak guna menguatkan Nilai-Nilai Kebangsaan sendiri.

Pendekatan kultural pada hakikatnya adalah mediasi kemanusiaan yang bersumber dari hati nurani guna tercapainya rekonsilisasi yang berkelanjutan. Nilai-nilai Pancasila sebagai faktor penentu semangat kebangsaan, membawa konsekuensi agar menjadikannya sebagai basis membangun peradaban dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang bermartabat dan berkeadilan.

Sultan juga menyampaikan untuk pemantapan nilai-nilai kebangsaan, diperlukan optimalisasi solusi yang bersifat implementatif-konkret guna memperkuat ketahanan bangsa. Setidaknya teridentifikai tiga simpulan yang perlu ditindak-lanjuti, yaitu: Penguatan fungsi dan peran kelembagaan UKP-PIP; Merajut dan Aktualisasi Nilai-Nilai KeIndonesiaan berdasar Pancasila, terutama nilai praksis yang langsung kasatmata dalam kehidupan sehari-hari, seperti: Nilai-nilai toleransi, keadilan, dan gotong-royong; serta peningkatan daya antisipatif melalui metode yang sesuai dengan tuntutan perkembangan kebutuhan generasi milenial.

Rektor UTM Dr Drs Ec Muh Syarif MSi mengucapkan terima kasih atas kehadiran Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubawono X. Dalam sambutannya, rektor menyampaikan bahwa sejak menjadi Perguruan Tinggi Negeri tahun 2001, sudah banyak yang dicapai.

"Beberapa tahun lalu sudah mengembangkan inovasi, dan diapresiasi kemenristekdikti. Ini salah satu upaya kampus ini bisa memberi kontribusi yang konkret bagi masyarakat," imbuh Rektor.

Sementara itu, tokoh Madura Prof. Dr. Mahfud MD mengajak para hadirin untuk merefleksikan kembali peran penting Yogyakarta di era revolusi kemerdekaan dan era reformasi. Mahfud menegaskan bahwa Yogyakarta punya peran penting dalam sejarah terbentuknya NKRI. (*)

BERITA REKOMENDASI