Tak Bisa Bekerja, 350 Perahu Nelayan Tanjungsari Rusak

TSUNAMI di Pandeglang Banten pada Sabtu malam 22 Desember tahun lalu bukan hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan ratusan bangunan,  tetapi juga merusak ratusan kapal nelayan.  Karena itu banyak nelayan yang kehilangan matapencaharian karena alat kerja mereka tidak ada. 

"Perahu yang hancur ada sekitar 350 unit. Ada juga yang hanya bocor atau mesinnya rusak, "  kata Jumpardi, nelayan yang juga Ketua RT 03 RW 05 Tanjungsari (Dusun III) Desa Teluk Kecamatan Labuhan Kabupaten Pandeglang Banten, saat Tim Dompet KR bersama ACT menyerahkan bantuan, Kamis (7/2/2019)

Perahu milik Jumpardi termasuk yang rusak berat.  Padahal baru saja dibeli dengan as n harga Rp 150 juta lengkap dengan peralatannya. "Perahu saya baru dipakai sekitar satu bulan, " tambahnya. 

Menurut Jumpardi,  nelayan di RT nya ada dua yang menjadi korban tsunam. Saat itu keduanya sedang melaut, namun satu orang bisa diselamatkan nelayan di perahu lain.  Sedang satunya tewas dan jenazahnya baru ditemukan empat hari kemudian. 

Kalau rumah-rumah nelayan di dusun ini, tambah Jumpardi, ada enam yang rusak akibat tsunami. Sebab air sampai dusun ini sudah tidak kencang dan tidak tinggi.  Namun siangnya terjadi hujan lebat dan banjir hingga merendam seluruh rumah. Karena itu barang-barang seisi rumah basah semua. 

Meski begitu saat terjadi bencana warga berlarian menyelamatkan diri. Setelah itu sampai sekitar satu bulan mereka mengungsi. Kini meski kini sudah kembali ke rumah masing-masing namun karena isi rumah banyak yang rusak, untuk makan sehar-hari masih disuplai dari dapur umum.  

Karena itu pada kesempatan ini Tim Dompet KR dan ACT menyerahkan bantuan alat-alat masak,  air mineral AirKu produksi PDAM Kulonprogo, kue, sabun,  telur dan sejumlah bahan pangan. Bantuan tersebut selain yang dihimpun dari Dompet KR juga dari UII dan yang dihimpun ACT Yogya. (Fie) 

BERITA REKOMENDASI