Teman Jadi Korban Pesawat, Bocah Ini Bikin Robot Seadove

Editor: KRjogja/Gus

BELUM ditemukannya sebagian blackbox (kotak hitam) pesawat Lion PK-LQP menambah sekian persoalan yang menimpa airline yang jatuh di laut. Kejadian serupa, pernah terjadi maspakai penerbangan lainnya yang jatuh di laut. Dan paling lama, hingga pesawat belum ditemukan, seperti Malaysia Air MH 370.

Seorang remaja asal Surabaya, yang kerap menjuarai sejumlah karya robot, Samuel Alexander telah menciptakan robot yang dapat membantu dunia penerbangan dalam memberikan informasi posisi blackbox beserta pesawat yang jatuh. Robot yang dinamai Seadove (Merpati Laut) ini terhadap kelemahan kotak hitam yang seakan tidak berdaya jika pesawat jatuh di laut.

Robot Seadove ini memenangkan lomba ilmiah internasional, yakni Asia Pacific Conference of Young Scientists (APCYS) di Nepal tahun 2017. "Robot ini akan langsung memberikan petunjuk posisi black box dan pesawat, bahkan data sebagian dari black box sudah ditranfer ke robot ini," ungkap Samuel yang ditemui KR saat Indonesian Science Expo yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di ICE BSD Serpong, Sabtu (3/11).

Penciptaan robot ini sendiri terinspirasi dari adanya kelemahan kotak hitam ketika pesawat jatuh di laut. Banyak pesawat ketika jatuh di laut, namun informasi tentang di mana pesawat dan kotak hitam berada, lama sekali bisa diketahui.  

Berita terkait:

Robot Seadove Bantu Cari Black Box, Ini Cara Kerjanya

Yang menyedihkan, ketika para sahabatnya ikut menjadi korban pada peristiwa jatuhnya pesawat beberapa tahun lalu. Adanya sahabat yang menjadi korban, menguatkan dirinya untuk mencari solusi terhadap kelemahan kotam hitam jika jatuh di laut.

"Saya terus kepikiran, sudah bertahun-tahun teknologinya kotak hitam tidak pernah dikembangin lagi. Seakan dibiarkan saja dibiarkan begitu saja. Tidak seperti handphone (HP) yang  setiap tahun selalu baru," ujar Samuel.

Padahal teknologi kotak hitam, sangat terkait dengan keselamatan sekian banyak orang,  malah tidak diperbarui lagi. Kenapa pesawat begitu besar, bisa hilang di laut. "Seperti pesawat Lion PK-LQP, baru terbang 13 menit saja, kemudian jatuh, tetapi untuk mencari pesawat dan kotak hitam membutuhkan waktu cukup lama," ujarnya.

Kenapa menjadi sulit menemukan, karena ada tiga kelemahan di kotak hitam. Pertama,  sinyal yang dipancarkan pada Under Water Locater Biken (ULB) hanya memancarkan sejauh 2 km saja. Kalau dilihat dari peta, 2 km sangat kecil sekali. Kedua, 'Emergency Locater Temiter' (ELT) yang dipakai untuk keadaan emergensi dan bisa mengirimkan data lokasi. Masalahnya, alat ini tidak bisa bekerja di bawah air. Tiga, ADSB yang terkait dengan radar, namun akan berfungsi jika di atas darat. Sedangkan di bawah laut, akan blank spot. (Jon)

 

 

BERITA REKOMENDASI