Terima Perahu Bantuan Pembaca ‘KR’, Nelayan Donggala Melaut Lagi

Editor: KRjogja/Gus

RODA ekonomi para nelayan Tompe dan Walandano Donggala sudah berputar normal kembali. Sebab mereka sudah mempunyai perahu lagi setelah perahu mereka hilang karena tsunami 28 September 2018 lalu.

"KR merupakan institusi pertama yang membantu perahu kepada para nelayan kami. Dengan perahu tersebut para nelayan bisa kembali melaut dan mempunyai pendapatan lagi," kata H Aswad Tobembe, nelayan yang juga Ketua BPD Tompe kepada KR, Jumat (13/12).  

Usai gempa dan tsunami memang para nelayan tidak mempunyai perahu lagi. Kepada mereka, Tim Dompet KR Peduli Korban Gempa dan Tsunami Palu, Sigi dan Donggala membantu 20 perahu lengkap dengan mesinnya yang disebut katinting. Selain itu juga membantu 5 unit katinting kepada nelayan yang sudah mempunyai perahu tetapi katintingnya hilang akibat tsunami.

Saat wartawan KR meninjau tempat bersandar perahu nelayan, mayoritas perahu bantuan pembaca KR sedang dipakai melaut. Hanya terlihat satu perahu bertuliskan Sumbangan Pembaca Kedaulatan Rakyat yang terlihat. "Tadi habis Jumatan pada dibawa turun ke laut. Pulangnya besok Sabtu sore atau Minggu pagi, " kata Aswad.

Sekali melaut perolehan ikan hasil tangkapan bervariasi. Menurut Aswad, rata-rata saat mendarat satu perahu nelayan membawa ikan 20 kg. Sedang harga setiap kilogram sekitar Rp 25 ribu atau pendapatan sekali melaut sekitar Rp 500 ribu.

"Jadi para nelayan kami sangat terbantu dengan diberi perahu lengkap dengan katintingnya ini. Sebab melaut merupakan sumber penghasilan nelayan," kata Aswad sambil menambahkan belakangan ada sejumlah lembaga yang juga membantu perahu.

Hal senada disampaikan Ahda, nelayan Walandano yang mendapatkan bantuan katinting. Sebelum mempunyai perahu, pria ini mencari ikan menggunakan bom, yakni meledakkan bom di air sehingga sehingga ikan di sekitarnya mati dan tinggal mengambili. Karena itu ia dijuluki pengebom.

Sedang kini Ahda bisa mencari ikan dengan jaring atau pancing di lokasi yang lebih jauh, karena menggunakan perahu bermesin katinting. "Sebenarnya saya ingin punya pukat, yaitu jaring selebar tigaratusan meter, sehingga perolehan ikan lebih banyak," harapnya. (Fie)

 

 

 

 

BERITA REKOMENDASI