Tingkatkan Pasokan Listrik, Indonesia Saatnya Gunakan Batu Bara

Editor: KRjogja/Gus

JAKARTA, KRJOGJA.com–Batu bara sudah lama menjadi primadona bahan bakar pembangkit energy listrik di dunia, karena ketersediaannya yang melimpah dan harganya terjangkau sehingga menjadi andalan dalam menyediakan energy listrik yang murah di berbagai negara raksasa ekonomi dunia seperti Cina, Amerika Serikat, India, Australia hingga Indonesia.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia Hendra Sinadia menyatakan,
Indonesia sendiri masuk dalam jajaran empat besar negara produsen batu bara di dunia setelah Cina, Amerika Serikat dan India. "Berdasarkan data Index Mundi pada 2018, Cina memproduksi 4,4 miliar short tons batu bara. Dan sebagai catatan, satu short ton setara dengan 907,2 kg," katanya dalam pernyataanya di Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Untuk peringkat kedua, Amerika Serikat mencatat produksi 985 juta short tons, lalu India dengan produksi 675 juta short tons dan Indonesia dengan 539 juta short tons pada 2018 silam. Cina, AS, dan India yang menjadi produsen batu bara terbesar di dunia sekaligus menjadi konsumen batu bara utama di dunia.

Uniknya, tidak demikian halnya dengan Indonesia, karena berdasarkan data Index Mundi, meski masuk negara jajaran atas produsen batu bara dunia, namun urusan konsumsi, Indonesia justru terlempar dari daftar 10 besar konsumen batu bara terbesar dunia dengan konsumsi ‘hanya’ sebesar 115 juta ton di 2018. Jadi, Indonesia tertinggal sangat jauh dalam urusan pemanfaatan batu bara di dalam negeri.

Selain konsumsi batu bara yang tertinggal jauh dibandingkan negara lainnya di dunia, urusan pemanfaatan limbah batu bara pun setali tiga uang. Di negara maju seperti Amerika Serikat, India, China, dan Jepang mereka menyerap fly ash, bottom ash, dan gipsum sebagai bahan pembuatan jalan, jembatan, paving blok, semen, dan sebagainya.

Menurut Hendra, di negara lain limbah batu bara tidak dianggap sebagai limbah B3 atau bahan berbahaya dan beracun. "Ini karena limbah batu bara, abu batu bara itu bisa digunakan untuk bahan konstruksi di berbagai negara. Cuma di sini saja dianggapnya sebagai B3. Ini kan jadi masalah Padahal di negara-negara lain seperti di Jepang limbah batu bara itu dijadikan bahan konstruksi, bahan bendungan dan jalan," tandasnya. (Ful)

 

 

PLN

BERITA REKOMENDASI