Titik Krisis Puncak Haji Mulai Dipetakan

Editor: KRjogja/Gus

MAKKAH, KRJOGJA.com – Kendati kondisi Masjidil Haram sudah dipenuhi ratusan ribu jemaah dari seluruh dunia, namun prosesi ibadah seperti Tawaf dan Sai masih bisa dijalankan dengan lancar. Pasalnya jelang puncak haji, Makkah mulai dibanjiri jemaah yang datang dari berbagai negara.

"Hampir seluruh jemaah haji dari seluruh dunia sudah berada di Makkah. Hal tersebut tentu saja membuat kepadatan di Makkah luar biasa. Karenanya kepada jemaah Indonesia jangan terlalu memforsir ibadah umrah dan lainnya karena harus benar-benar mempersiapkan diri untuk wukuf," sebut Menag RI yang juga Amirul Hajj Lukman Hakim Saifuddin sela berkeliling Masjidil Haram, Kamis (1/8) sore waktu setempat.

Sebelumnya, Lukman yang datang bersama 13 orang rombongan Amirul Hajj sudah merasakan langsung kepadatan Masjidil Haram saat melaksanakan umrah begitu tiba dari Madinah. Lukman terus meningkatkan agar jemaah sennatiasa menjaga kesehatan dengan baik sehingga saat puncak hari Arafah dilanjutkan mabit di Muzdalifah serta Mina bisa dilakukan dengan sempurna.

Mengenai harapan pengenalan kuota hingga 250 ribu jemaah, Lukman mengatakan hal tersebut tentu menggembirakan. Sebab, antrian masa tunggu semakin pendek. Hanya saja persoalan kuota terkait kapasitas daya tampung di Mina.

"Kalau di Makkah banyak hotel tumbuh, Masjidil Haram diperluas, Masjid Nabawi di Madinah juga seperti itu, Arafah juga bisa diperluas dengan seluas-luasnya. Tapi khusus Mina karena wilayahnya sangat terbatas, selama Pemerintah Saudi belum mampu meningkatkan daya tampung kapasitas dengan menambah tenda dan toilet, penambahan kuota justru akan mengundang kerawanan. Bahkan dapat mengancam keselamatan jiwa jemaah haji itu sendiri," ucapnya.

Karena itu sambung Lukman, pemerintah sedang memohon kepada Kerajaan Saudi untuk segera meningkatkan kapasitas daya tampung Mina dengan menambah tenda serta toilet. Sehingga kalau kapasitasnya meningkat, maka penambahan kuota menjadi sesuatu yang tidak mengkhawatirkan. Tapi kalau menambah kuota tanpa dibarengi atau didahulukan dengan penyiapan infrastruktur di Mina, akan menjadi tragedi kemanusiaan karena mengancam keselamatan jiwa jemaah.

Terpisah Kepala Satuan Operasional Arafah, Muzdalifah dan Mina (Kasatops Armuzna) Jaetul Muchlis menyebut sudah memetakan titik krisis terkait masa Armuzna. Termasuk salah satunya antisipasi akan banyaknya jemaah yang melontar jumrah di waktu yang diyakini afdol sehingga konsentrasi massa akan menumpuk.

"Sangat penting bagi jemaah kita menghindari waktu kritis atau waktu terlarang. Apalagi jika melihat postur jemaah kita dan karakteristiknya 60 persen dalam kondisi risti dan lansia," jelasnya.

Sebelumnya, Menag Lukman Hakim juga mengunjungi jemaah di sejumlah hotel untuk menanyakan tingkat kepuasan terkait akomodasi, transportasi, katering dan lainnya. (Feb)

 

BERITA REKOMENDASI