Tol Langit Atasi Kesenjangan Digital di Indonesia

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Pengguna internet aktif di Indonesia dari 2019 – 2020 mencapai 196,71 juta pengguna atau sekitar 73,7 persen dari jumlah penduduk yang mencapai 267 juta orang. Namun masih ada gap atau kesenjangan sekitar 27 persen.

Bila diambil dari gap 27 persen ini anak anak yang umurnya antara 0-5 tahun tidak di hitung menggunakan internet, itu hanya diperkirakan 8 persen. Sehingga seharusnya pengguna internet di Indonesia itu sekitar 92 persen.

“Jadi pengguna internet di Indonesia baru 73,7 persen dari jumlah penduduk, kalau misalnya anak anak yang berusia 0-5 tahun tidak masuk hitungan yang diperkirakan mencapai 8 persen, seharusnya pengguna internet kita itu mencapai 92 persen, nah, masih ada sekitar 19 persen lagi yang harus diselesaikan,” kata Dirut BAKTI Kominfo, Anang Latif, di Jakarta, Selasa (14/09/2021).

Adapun penetrasi internet per wilayah, paling besar di pula Jawa yakni mencapai 41,7 persen, Sumatera 16,2 persen, Sulawesi mencapai 5,1 persen, Kalimantan 4,6 persen, Bali dan Nusa Tenggara 3, 9 persen serta Maluku dan Papua sebesar 2,2 persen.

Namun berdasarkan international telecommunication union (ITU) ICT Development Index (IDI) tahun 2017 lalu, Indonesia menduduki rangking ke 111 di dunia dari 176 negara. Ini dibawah Vietnam ,yang berada di urutan 108, Filipina ke 101, Thailand ke 78. Malaysia ke 63, Brunai ke 53 dan Singapura ke 18. Indonesia mungkin unggul dibanding Kamboja, Laos dan Timur Leste.

“Index ini mengkombinasikan 11 indikator pada akses TIK, penggunaan dan keterampilan, merangkum aspek kunci pembangunan TIK dalam satu pengukuran yang dapat dibandingkan antar negara,” tegasnya.

Ditambahkan, untuk mengatasi kesenjangan tersebut, BAKTI Kominfo terus berupaya menghadirkan jaringan internet di seluruh Indonesia khususnya di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) dengan membangun Tol Langit.

Istilah Tol Langit ini menggambarkan sebuah sambungan bebas hambatan berupa sinyal internet yang dapat menghubungkan seluruh daerah di Indonesia tanpa terkecuali. Hal ini dapat diwujudkan dengan membangun jaringan backbone nasional dan satelit multifungsi berteknologi tinggi (High Throughput Satelite).

“Kehadiran Tol Langit sangat dibutuhkan mengingat masih adanya kesenjangan digital di Indonesia, di mana hampir di seluruh wilayah masih terdapat masyarakat yang belum mendapatkan akses internet,” tegasnya.

“Tol Langit seperti jalan tol bebas hambatan. Jaringan internet di pedalaman yang sebelumnya hanya terwujud oleh satelit kini digantikan oleh fiber optic sehingga internet bisa lebih cepat seperti di kota besar,” jelasnya.

Salah satu cara mewujudkan Tol Langit dengan membangun infrastruktur telekomunikasi backbone yang menghubungkan antarkota/kabupaten melalui jaringan serat optik Palapa Ring serta infrastruktur middle mile berupa satelit, serat optik, dan microwave link sebagai penghubung hingga ke wilayah kecamatan.

BAKTI berencana membangun fiber optic Palapa Ring Integrasi di tahun 2022—2023 dengan total 12.803 km dalam 2 fase pembangunan, fase 1 (2022) sepanjang 5.226 km dan fase 2 (2023) sepanjang 6.857 km. Dari total fiber optic yang akan dibangun, 8.203 km akan digelar di daratan, 3.880 km di laut, dan sisanya berupa microwave link. Jaringan ini akan mengitegraskan 3 paket Palapa Ring yang sudah terbangun, yakni Palapa Ring Barat, Tengah dan Timur sehingga saling terhubung.

Program pembangunan Palapa Ring Integrasi yang menelan biaya hingga 8 triliun Ini akan menjadi bagian utama dari Tol Langit Nasional. Tujuannya untuk memperkuat jaringan yang sudah ada dan menjadi backup bila di satu wilayah jaringannya terputus, sehingga pemanfaatan internet akan lebih maksimal. Sumber pendanaan program rencananya didapat dari kerjasama pemerintah dan pihak swasta.

Jaringan Palapa Ring yang saat ini sudah terbangun di wilayah Barat, Tengah dan Timur pun dalam prakteknya tidak mudah untuk dikerjakan. Banyak kendala lapangan yang dihadapi oleh BAKTI dan para mitra kerjanya.

Sementara itu, Presiden Direktur Moratelindo Galumbang mengatakan, umumnya tantangan hadir dari faktor geografis, sosial dan administratif. Moratelindo salah satu mitra kerja BAKTI yang dipercaya untuk membangun jaringan Palapa Ring wilayah Barat dan Timur.

Kondisi geografis Indonesia yang memiliki pegunungan tinggi memberi tantangan yang luar biasa, khususnya di wilayah Papua yang gunung-gunungnya bisa mencapai lebih dari 4000 m di atas permukaan laut. Lokasi yang hanya bisa diakses dengan helicopter ini juga menghambat kinerja para pekerja lapangan, karena suhu udara dan kadar oksigen yang rendah.

Kendala tidak hanya di masalah teknologi, namun juga dari sisi keamanan. Penyerangan dan pengerusakan bisa terjadi kapan saja dari kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua. Dalam hal ini Moratelindo harus terus berkoordinasi dengan pihak TNI untuk menjamin keselamatan karyawannya.

“Membangun Palapa Ring tidak hanya mengorbankan keringat dan memakan biaya yang besar, tapi juga harus berkorban nyawa. Sudah banyak korban, baik dari karyawan, kontraktor, maupun aparat TNI yang gugur demi mewujudkan internet di pelosok negeri, khususnya di wilayah Indonesia Timur,” ungkap Galumbang.

Untuk mengubah wajah dan pola hidup masyarakat di daerah 3T lewat kehadiran internet sangat tidak mudah. Peran serta berbagai pihak sangat dibutuhkan. Bukan hanya pemerintah pusat yang bergerak maju bersama dengan mitra-mitranya, aparat keamanan TNI dan Polri yang mengawal program ini supaya berjalan aman, namun juga peran pemerintah daerah yang juga harus proaktif memberi akses kemudahan lewat berbagai perizinan yang dibutuhkan.

Harapannya, ke depan tidak terjadi lagi perizinan yang berbelit hingga membutuhkan 29 izin hanya untuk membangun jaringan fiber optic sepanjang 60—70 km. Semoga cukup satu perizinn sudah bisa memberi akses untuk melaksanakan pekerjaan sehingga program-program pemerintah dapat berjalan dengan lebih cepat dan hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI