Umroh Lewat Traveloka dan Tokopedia, Pemerintah Diminta Jelaskan

YOGYA, KRJOGJA.com – Pemerintah Indonesia dan Arab Saudi meneken MoU aplikasi umroh melalui jejaring digital. Dua platform unicorn yakni Traveloka dan Tokopedia diminta menggawangi aplikasi yang ditujukan untuk memudahkan perjalanan haji kecil masyarakat tersebut. 

Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta menilai penunjukan dua platform yakni Traveloka dan Tokopedia tersebut seharusnya dijelaskan secara detail oleh pemerintah. Pasalnya, masih ada banyak aplikasi serupa yang juga dibuat oleh anak-anak bangsa. 

“Kami bertanya, apa motif Pemerintah RI dalam hal ini Kominfo hanya menggandeng Traveloka dan Tokopedia? Padahal ada platform yang lain seperti Bukalapak dan juga mungkin Gojek. Pemerintah dalam hal ini Kominfo harus menjelaskan kepada publik mengenai hal ini,” ungkap Sukamta melalui rilis yang diterima KRjogja.com Jumat (19/7/2019). 

Sukamta juga memberikan sorotan, ketika pemerintah menggandeng dua platform digital tersebut, dikhawatirkan 1.016 biro umrah yang saat ini mengantongi legalitas perlahan mati. Komitmen pemerintah untuk menghidupkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) pun menurut legislator DIY tersebut menjadi dipertanyakan. 

“Ada potensi mematikan 1.016 biro penyelenggara umrah yang tersebar di seluruh Indonesia dan implikasinya bisa menciptakan angka pengangguran baru. Sementara di sisi lain hal ini juga sekaligus akan memperbesar aset dua perusahaan yang secara badan terlihat lokal tapi mayoritas kepemilikannya bukan lagi anak-anak bangsa sendiri,” sambung dia. 

Sukamta sebenarnya menilai langkah digitalisasi cukup strategis di masa disrupsi seperti saat ini, di mana internet masuk ke segala lini kehidupan. Namun, pemerintah dirasa harus mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan strategis yang membawa dampak bagi masyarakat. 

“Jika MoU itu berisi bahwa Traveloka dan Tokopedia hanya memfasilitasi pilihan akomodasi calon jama’ah seperti ticketing, pesawat dan hotel, bukan mengurusi penyelenggaraan ibadah umrah secara keseluruhan, saya kira ini masih bisa dibicarakan. Di jaman ini, kalau tidak bisa berinovasi, maka berkolaborasilah."

"Jika tidak bisa melakukan inovasi yang kompetitif, lebih baik berkolaborasi dari pada tidak bisa bertahan alias collapse (punah), jika konsep kolaborasi yang terbaik maka dicari saling menguntungkan antara marketplace platform digital dengan UMKM biro penyelenggara ibadah umrah," pungkasnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI