Usut Kasus Munir, Menkopolhukam Cari Data-data Terdahulu

JAKARTA, KRJOGJA.com –  Untuk mengungkap kembali kasus kasus pembunuhan pejuang Hak Asasi Manusia (HAM), Munir Said Thalib, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto akan menemui Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Teten Masduki, untuk mengatahui data-data yang dimiliki oleh pemerintah dari hasil Tim Pencarian Fakta (TPF) kasus Munir.

"Kalau mencari fakta berkas dari peradilan itu kan yang tersangka sebagai pembunuh saudara Pollycarpus‎ dan sudah dihukum selama 14 tahun. Kemudian sudah dapat remisi sekarang sudah bebas bahkan. Lalu untuk yang diduga aktor intelektual lewat peradilan yang dinyatakan bebas dan sudah inkrah keputusan itu," kata Wiranto di Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (11/9/2017).

Seperti diketahui Aktivis HAM Munir Said Thalib yang akrab disapa Cak Munir meninggal dunia dalam perjalanan menuju Belanda, negeri yang menjadi tujuannya bersekolah selama beberapa tahun ke depan. Dia diracun dalam penerbangan Garuda Indonesia GA-974 dari Jakarta menuju Amsterdam, yang sempat transit di Singapura pada 7 September 2004.

Sejumlah pengadilan telah dilakukan untuk mengadili pelaku pembunuhan Munir. Dalam kasus ini, pengadilan telah menjatuhkan vonis 14 tahun penjara terhadap Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda yang saat itu sedang cuti, sebagai pelaku pembunuhan Munir.

Sejumlah fakta persidangan juga menyebut adanya dugaan keterlibatan petinggi Badan Intelijen Negara dalam kasus pembunuhan ini. Namun, pada 13 Desember 2008, mantan Deputi V BIN Mayjen Purn Muchdi Purwoprandjono yang menjadi terdakwa dalam kasus ini divonis bebas dari segala dakwaan.

Untuk itu, menurut Wiranto, perkembangan kasus pembunuhan Munir hanya berdasarkan data dari TPF yang dipimpin Brigjen (Purn) Marshudi Hanafi. Namun, pemerintah belum berhasil mendapatkan dokumen asli dari hasil pencarian fakta tersebut. "Tinggal yang belum terselesaikan adalah temuan dari TPF. Dari temuan Marsudi Hanafi yang zamannya SBY tahun lalu. Kita sudah berusaha untuk mendapatkan itu, tapi belum dapat juga," ujarnya.

Lebih lanjut Wiranto mengakui sulit untuk mengungkap kasus pembunuhan tersebut. Pasalnya, peradilan telah memutus inkrah kasus yang telah berjalan 13 tahun. "‎Karena secara yuridis memang sudah inkrah kan masalahnya itu. Inkrah inikan tidak mudah kalau dari sisi peradilan kita," pungkasnya. (Sim/Edi)

 

BERITA REKOMENDASI