Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp 6.026 T

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mencapai US$408,6 miliar atau setara Rp6.026,85 triliun (kurs Rp14.750 per dolar AS) pada kuartal II 2020. Jumlah utang meningkat 5 persen secara tahunan, dari US$391,8 miliar pada kuartal II 2019.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengatakan peningkatan utang berasal dari transaksi penarikan yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta pada periode April-Juni 2020. “Selain itu, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga berkontribusi pada peningkatan nilai ULN berdenominasi rupiah,” ungkap Onny.

Sejalan dengan peningkatan utang, rasio utang Indonesia meningkat dari 34,5 persen pada kuartal II 2019 menjadi 37,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II 2020.

Berdasarkan jatuh tempo, sekitar 89 persen merupakan utang jangka panjang dan sisanya, 11 persen jangka pendek. Berdasarkan sumber, jumlah utang pemerintah dan bank sentral nasional mencapai US$199,3 miliar atau setara Rp2,939,67 triliun pada kuartal II 2020.

Khusus untuk utang pemerintah, tercatat meningkat 2,1 persen secara tahunan menjadi US$196,5 miliar atau setara Rp2.898,37 triliun. Peningkatan utang pemerintah karena penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk untuk memenuhi target kebutuhan pembiayaan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020.

Kebutuhan belanja pemerintah meningkat seiring besarnya stimulus yang digelontorkan di tengah tekanan ekonomi akibat pandemi virus corona atau covid-19. “Penerbitan sukuk global untuk memenuhi target pembiayaan, termasuk satu seri green sukuk yang mendukung pembiayaan perubahan iklim,” katanya.

Kendati utang meningkat, namun BI memandang derasnya aliran modal asing yang masuk ke pasar surat utang memberikan bukti kepercayaan investor global terhadap perekonomian Indonesia di tengah pandemi corona. (*)

BERITA REKOMENDASI