Virus Korona Meluas, Maskapai Indonesia Dilarang ke Wuhan

Editor: KRjogja/Gus

JAKARTA, KRJOGJA.com – Mengantisipasi kemungkinan masuknya wabah virus Korona melalui jalur penerbangan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menghentikan sementara penerbangan dari dan ke Kota Wuhan, China. Saat ini ada dua maskapai penerbangan nasional yang memiliki rute penerbangan ke Kota Wuhan, yaitu Sriwijaya Air dan Lion Air.

"Menindaklanjuti Notam G0108/20 yang diterbitkan International Notam Office Beijing, maskapai Indonesia yang melakukan penerbangan dari dan ke Kota Wuhan, China untuk sementara tidak dapat dilakukan," ujar Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Polana B Pramesti di Jakarta, Minggu (26/1).
Polana mengatakan, pihaknya akan melakukan antisipasi penyebaran virus pneumonia melalui jalur penerbangan. "Kami telah melakukan koordinasi intensif kepada seluruh maskapai penerbangan di Indonesia untuk mengantisipasi kemungkinan penyebaran virus pneumonia masuk ke Indonesia melalui aktivitas penerbangan," jelasnya.

Menurut Polana, sesuai informasi melalui Notam G0108/20 bahwa Bandara Internasional Wuhan Tianhe tidak dapat digunakan sebagai bandara alternatif kecuali untuk penerbangan kondisi darurat mulai 23 Januari pukul 11.00 UTC (18.00 WIB) sampai 2 Februari pukul 15.59 UTC (22.59 WIB). Penerbangan dari Indonesia menuju Wuhan akan dialihkan ke kota lain di China.

Polana menambahkan, Ditjen Perhubungan Udara telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor: SE.001/DKP/I/2020 tanggal 20 Januari 2020, berisi perintah kepada maskapai, antara lain untuk melengkapi kartu General Declaration (Gendec) yang diberikan kepada petugas karantina kesehatan di bandara kedatangan.

Kemudian, melaporkan kepada petugas lalu lintas udara apabila terdapat orang/penumpang yang diduga terpapar karena terjangkit di pesawat udara. Memberikan Kartu Kewaspadaan Kesehatan (Alert Card) sebelum kedatangan (untuk penerbangan yang berasal dari negara terjangkit) kepada penumpang, dan memastikan kepada penumpang untuk lapor kepada petugas apabila dirinya merasa ada kecurigaan tertular penyakit.

"Termasuk memberikan pengumuman di dalam pesawat (on board) agar penumpang melaporkan kepada petugas KKP pada saat kedatangan bila berasal atau pernah singgah di negara terjangkit," kata Polana.
Polana juga memerintahkan kepada operator penerbangan untuk terus meningkatkan pengawasan di terminal kedatangan internasional dan terus melakukan koordinasi dengan seluruh stakeholder penerbangan untuk mengantisipasi menyebarnya virus Korona melalui jalur penerbangan. Dari hasil laporan, hingga saat ini belum diketemukan adanya penumpang yang terjangkit virus pneumonia yang masuk melalui bandara di seluruh Indonesia. 

Sedangkan Menteri Kesehatan Letjen TNI (Purn) DR dr Terawan Agus Putranto SpRad(K) menegaskan, tidak ada penderita (suspect) yang positif terkena virus Korona. "Tidak ada yang disuspek, ayo hidup sehat, jaga kesehatannya tidak akan ketularan," ujar Terawan di sela Ramah Tamah dan Silaturrahmi dengan jajaran Tim Kesehatan RS Wahidin Sudirohusodo, RS Pusat Jantung Koroner dan Dinas Kesehatan di Makassar, Minggu.

Mengenai informasi penyebaran virus Korona yang mengkhawatirkan masyarakat, Menkes menyatakan, hal itu tidak ada. Jadi informasi yang berkembang itu hoaks. 

Menurutnya, menjaga kesehatan adalah hal utama agar tidak menularkan atau pun tertular virus yang menakutkan banyak orang. "Yang jelas, kewaspadaan tinggi dengan cara hidup sehat. Dengan hidup sehat Anda semua akan mencegah terjadinya ketularan dan menularkan," tandasnya.

Menyinggung kebijakan memperlakukan travel warning

pada warga Tiongkok ke Indonesia ataupun sebaliknya, akan dijelaskan kemudian. Namun yang jelas, paparnya, mengenai kebijakan peringatan perjalanan wisata tersebut ditentukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan yang menjadi representasi pemerintah.

Dikatakan, penyebaran virus Korona melalui kontak langsung dengan cairan (sekresi) yang terinfeksi atau percikan ludah. Maksudnya, virus Korona menyebar melalui udara saat seseorang bersin atau batuk. Kekebalan tubuh (imunitas) berkembang segera setelah infeksi namun berkurang secara bertahap seiring berjalannya waktu.

Pola infeksi ulang (reinfeksi) umum dijumpai, dikarenakan penurunan imunitas dan variasi antigen antarspesies. (Imd/Ati)

 

BERITA REKOMENDASI