Wakaf Modal Usaha Mikro Tumbuhkan Harapan Pedagang Kecil dan Petani

Hal yang sama juga dirasakan oleh Mang Odang, petani Desa Telarsari, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang. Dalam mengelola lahan sewaan, Mang Odang berutang dari bank emok. Bank emok yang dimaksud Mang Odang adalah rentenir yang biasa meminjamkan uang di desa-desa. Sistem pinjaman Mang Odang sebesar Rp 3 juta itu harus dicicil Rp 90 ribu per minggu selama satu tahun, sehingga dalam satu tahun Odang membayar sekitar Rp 4,3 juta atau dengan bunga sekitar 44 persen.

Hadirnya program Wakaf Modal Usaha Mikro membawa kebahagiaan bagi Mang Odang. “Alhamdulillah, haturnuhun, dengan Wakaf Modal Usaha Mikro, saya terlepas dari bank emok dan punya modal untuk usaha tani. Memang ini yang diharapkan oleh keluarga Mang Odang,” ucap Mang Odang.

Dari dua kisah di atas, wakaf tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga mampu menopang ekonomi masyarakat. Kebermanfaatan dan keberkahan menjadi inti dari wakaf itu sendiri. Kebermanfaatan dilihat dari bagaimana dana wakaf yang dikelola secara produktif mampu menopang hidup mauquf ‘alaih atau penerima manfaa. Nilai pokok wakaf tetap terjaga, sementara keberkahan dapat dirasakan dari bagaimana wakaf menjadi pembasmi riba.

Keberkahan dan kebermanfaatan wakaf telah dibuktikan oleh wakaf sumur Utsman bin Affan yang sudah tidak asing lagi. Ia membeli sumur dari seorang Yahudi bernama Raumah. Setelah diwakafkan, tumbuhlah di sekitar sumur itu beberapa pohon kurma yang hasilnya dapat dimanfaatkan. Tidak berhenti sampai di situ, kebun tersebut dikelola dari generasi ke generasi, dari para khalifah sampai pemerintah Arab Saudi di bawah Kementerian Pertanian. Hasil dari kebun kurma tersebut oleh pemerintah Arab Saudi dijual ke pasar-pasar. Setengah keuntungan disalurkan kepada anak yatim dan yang membutuhkan. Setengahnya lagi disimpan dalam bentuk rekening di bank atas nama Utsman bin Affan yang dipegang oleh Kementerian Wakaf.

ACT

BERITA REKOMENDASI