Walau Ada Vaksin, Cita Mas Jajar Terus Digalakkan

Ia pun menghimbau kepada para mahasiswa agar tetap dan terus menerapkan protokol kesehatan dimasa pandemi ini. ”Meskipun saat ini sudah ada vaksin COVID 19, saya berharap kepada masyarakat untuk tetap waspada dan senantiasa melaksanakan CITA MAS JAJAR, ” Ujar Susmiarto.

Acara sosialisasi tersebut diisi pemateri Juru Bicara Satgas Covid Kabupaten Sleman Dra. Shavitri Nurmala Dewi, Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dr. Novita Krisnaeni, MPH, dan Kepala Satpol PP Kab. Sleman Susmiarto.

Sementara itu, Ketua DPC GMNI Yogyakarta, Niko mardiansyah mengatakan sosialisai tersebut merupakan jembatan dialog antara mahasiswa dengan Pemkab Sleman agar informasi di media sosial yang belum tentu kebenarannya dapat di klarifikasi dan pertanggungjawabkan kebenarannya.

“Semoga selesai acara ini tidak ada lagi simpang siur informasi yang ada dimasyarakat,” ungkpanya. (*)

 

 

 

 

 

Kepala Dinkes Sleman, Joko Hastaryo mengatakan bahwa peluncuran program tersebut di Sleman merupakan salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten dalam mengendalikan jumlah DBD di Sleman.

 

“Ini (program Si Wolly Nyaman) merupakan upaya dalam pengendalian DBD. Sebelumnya telah banyak upaya yang dilakukan pemkab sleman yaitu membentuk Pokjanal dan upaya lainnya.” Jelas Joko.

 

Terkait kasus DBD di Sleman, Joko juga mengungkapkan adanya kenaikan jumlah kasus DBD di Sleman pada tahun 2020. Sebanyak 810 kasus ditemukan di Sleman pada tahun 2020. Angka tersebut mengalami kenaikan cukup signifikan dibanding pada tahun 2019 yaitu sejumlah 728. Adanya kenaikan jumlah kasus DBD ini, Joko menilai penerapan teknologi nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia sangat dibutuhkan. Pasalnya, secara ilmiah, penerapan program tersebut telah menunjukkan hasil yang baik dalam percobaanya.

 

Wolbachia juga dinilai efektif dalam menurunkan penularan virus dengue. Hal tersebut dijelaskan oleh Ketua Yayasan Tahija, Trihadi Saptoadi. Dirinya menyebut Wolbachia ini terbukti menurunkan 77 persen kasus DBD dari hasil efikasi di Kota Yogyakarta.

 

“Sleman akan menjadi wilayah pertama dalam implementasi program ini. Jadi bukan hanya untuk menekan kasus, tapi juga implementasi dan kita harapkan menjadi role model bagi wilayah lain,” katanya.

 

Senada dengan pernyataan tersebut, Team Leader WMP, Riris Andono Ahmad menyebut selain memiliki kemanjuran sebesar 77 persen, teknologi program Wolbachia tersebut dinilai aman dan ramah lingkungan serta mampu bertahan dalam jangka waktu yang lama.

 

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sleman berkesempatan untuk melakukan simulasi bagaimana metode Wolbachia tersebut diimplementasikan. Adapun metode tersebut jika diimplementasikan di masyarakat yaitu dengan meletakkan ember berisi telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di rumah warga dan dibiarkan untuk berkembangbiak menjadi nyamuk dewasa. Selanjutnya, nyamuk dengan Wolbachia tersebut akan melakukan perkawinan dengan nyamuk local, sehingga keturunannya menjadi nyamuk dengan Wolbachia.

 

Sementara itu, Bupati Sleman Sri Purnomo dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasinya terhadap peluncuran program Si Wolly Nyaman. Adanya inovasi dalam pengendalian DBD tersebut diharapkan dapat memberikan hasil yang efektif dan dapat menghindarkan masyarakat dari kasus DBD. (*)

 

 

BERITA REKOMENDASI