Wamenlu Evaluasi Perjanjian Dagang Sawit

Editor: Ivan Aditya

BALI, KRJOGJA.com – Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Mahendra Siregar akan mengevaluasi perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa (Indonesia European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement/IEU-CEPA) demi melindungi sawit nasional.

Bahkan, IEU-CEPA akan menjadi perjanjian dagang pertama yang dievaluasi olehnya dalam rangka menjalankan misi perlindungan dan pengembangan industri sawit nasional sesuai permintaan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Langkah yang akan kami lakukan sangat jelas adalah melihat draf teks dari IEU CEPA yang sedang dirundingkan. Kami ingin merumuskannya dengan posisi yang fair (adil) terhadap kelapa sawit," ucap Mahendra.

Kendati begitu, ia belum bisa memberikan gambaran sekiranya poin-poin apa saja yang paling menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Khususnya, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perdagangan selaku ujung tombak negosiasi Indonesia di kancah dunia.

Namun, ia menekankan butir-butir perjanjian harus benar-benar mencerminkan keputusan yang menguntungkan bagi kedua negara. Ia ingin perjanjian dagang ini bisa menjadi jembatan bagi hubungan kerja sama yang lebih baik antar kedua pihak, khususnya di sektor industri sawit.

Hal ini tak lepas dari riwayat panjang ketegangan Indonesia dengan Uni Eropa terkait industri sawit. Uni Eropa kerap menilai industri sawit memberikan dampak buruk terhadap lingkungan.

Sementara Indonesia bersikeras bahwa sawit adalah industri yang mampu memenuhi kebutuhan minyak nabati dengan produktivitas tertinggi di dunia. Bahkan, melebihi beberapa jenis minyak nabati lain, seperti minyak kedelai, minyak biji bunga matahari, dan lainnya. (*)

BERITA REKOMENDASI