YPKC Bukan Kumpulan Preman, Berhak Kuasai Tanahnya

Oleh karena itu pihaknya meminta Bapak Gesang Sumarno dan Ibu Sri Suhyati agar meninggalkan rumah tersebut Selasa pekan lalu, bukan disuruh pergi begitu saja, tetapi pihak YPKC telah menyediakan rumah kontrakan selama enam bulan untuk keduanya dan keluarganya di Depok. “Jadi kami suruh pergi dengan ada kebijakan, rasa kemanusiaan. Kami juga siapkan mobil truk untuk membantu angkut barang-barang mereka,” kata dia.

Mengenai listrik yang dimatikan di rumah kecil yang ditempati Bapak Gesang Sumarno dan Bapak Sri Suhyati pada Sabtu (10/4/2021), Ani menjelaskan, hal itu dilakukan melalui peringatan sejak Selasa pekan lalu kepada Bapak Gesang Sumarno dan Ibu Sri Suhyati. “Dan perlu diketahui, selama ini listrik di rumah kecil itu dipasang dan dibayar oleh pihak YPKC. Ya hak kami dong pindahkan meterannya ke Gardu (depan) masuk lahan/tanah tersebut. Jadi bukan dimatikan secara paksa,” kata dia.

Ani menegaskan, YPKC sejak awal tidak menelantarkan lahan/tanah tersebut. Sebab, pada tahun 1997 pihak YPKC memagari keliling lahan tersebut dengan tembok dan besi.   Selain itu, sampai saat ini YPKC membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) atas lahan tersebut. “Jadi ini lahan YPKC sendiri ya. Yang mengaku-ngaku itu saja yang justru menduduki dengan melanggar ketentuan hukum,” kata dia.

Ani menegaskan, legal standing kepemilikan atas tanah a quo terdiri atas empat Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB), yakni: Pertama, Nomor: 450, seluas 18.285 M2 (Delapan Belas Ribu Dua Ratus Delapan Puluh Lima Meter Persegi), tanggal 12 Juli 1996.

BERITA REKOMENDASI