Yuk lihat Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman Milik Pangeran Diponegoro di Museum Nasional

 

Diakui Hilmar, kembalinya keris Kiai Nogo Siluman merupakan ketiga kalinya pengembalian pusaka sang pangeran dari negeri Belanda. Sebelumnya, pusaka tombak Kanjeng Kiai Rondhan, pelana kuda Kanjeng Kiai Gentayu, dan payung kebesaran Diponegoro (payung berlapis prada) telah dikembalikan pada 7 Oktober 1977, kemudian tongkat Kanjeng Kiai Cokro kembali ke Indonesia pada 5 Februari 2015.

“Sejak kedatangan kembali keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman ke tanah air, ini kali pertama keris tersebut tampil di depan publik,” lanjut Hilmar.

Kepulangan benda-benda pusaka milik Pangeran Diponegoro menurut Hilmar tak lepas dari perjuangan dan pendekatan yang dilakukan oleh pihak museum di Indonesia dan Belanda. Didukung data-data dan berbagai bukti sejarah, akhirnya benda pusaka milik Sang Pangeran bisa kembali ke tanah air.

Menurut Hilmar, pameran ini adalah gambaran eksplisit semangat juang Pangeran Diponegoro melawan penjajahan Belanda. Pada masa pandemi seperti sekarang, pameran ini diharapkan menjadi alternatif hiburan yang edukatif bagi masyarakat Indonesia. Kehidupan dan perjuangan Pangeran Diponegoro juga dapat menjadi inspirasi dalam pembentukan karakter bangsa serta semangat berjuang dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Kepala Museum Nasional Siswanto mengatakan Pameran Pusaka Pangeran Diponegoro merupakan event pameran bertema tokoh sejarah berbasis teknologi. Pameran ini menjadi ajang untuk pertama kalinya keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman tampil di depan publik. Keris Pangeran Diponegoro yang memiliki latar belakang kisah yang tragis dan penuh intrik.

“Pameran ini menjadi pameran temporer “percontohan” dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat bagi para pengunjung, sebagai bentuk sosialisasi penerapan protokol kesehatan bagi pengunjung dan pekerja museum,” jelasnya.

Adapun materi pameran terdiri atas pertama, Pusaka Pangeran Diponegoro (Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Tombak Kanjeng Kiai Rondhan, Pelana Kuda Kanjeng Kiai Gentayu, Payung Kebesaran Diponegoro serta Babad Diponegoro. Kedua, Kisah Hidup Pangeran Diponegoro oleh pendongeng disajikan dengan media video mapping projection dengan genre komik manga Jepang.

Ketiga, Hologram Pangeran Diponegoro bersama dengan kuda  Kanjeng Kiai Gentayu. Keempat, Film animasi berujudul  ‘Diponegoro 1830’, berdurasi 15 menit yang ditayangkan pertama kali di sini, menceritakan tentang apa yang terjadi pada pangeran sejak penangkapannya di Magelang pada 28 Maret 1830 hingga keberangkatannya ke pengasingan di Manado pada korvet perang Belanda Pollux (3 Mei 1830).

“Pengunjung juga akan melihat foto-foto lukisan dan sketsa Diponegoro sebanyak 17 karya yang dibuat oleh seniman selama dua abad terakhir, paling awal dari tahun 1807 hingga 2019. Ini menambah kedalaman visual dan dramatis pada pameran berbasis teknologi ini.

Bagi masyarakat yang berminat ingin mengunjungi pameran ini, diwajibkan mendaftarkan diri secara online di laman website PKN  https://pkn.id/(ati)

BERITA REKOMENDASI